Jumat, 11 Mei 2012

Perguruan Tinggi bukan Pencetak Koruptor


Perguruan Tinggi Bukan Pencetak  Koruptor
            Korupsi merupakan hal yang bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu. Baik oleh para birokrat, politikus, tokoh masyarakat, ahli pendidik, dan bisa juga dari masyarakat yang tak berpangkat. Bibit koruptor bisa dicetak dimana saja, ketika ada kesempatan, pasti peluang praktik tindak korupsi bisa terjadi. Mengenai statement tentang penyebutan perguruan tinggi sebagai pencetak koruptor itu kurang tepat. Memang pada faktanya banyak para pemimpin negara ini yang terlibat dalam kasus korupsi. Tentu kebanyakan dari mereka pernah menduduki bangku perkuliahan untuk mencapai titelnya.  Akan tetapi, pencetakan dan pembibitan koruptor sejatinya berawal dari rendahnya moral individu itu sendiri, bukanlah berasal dari instansi yang mereka tempati. Krisis morallah yang menjadikan mereka selalu berkeinginan melakukan tindak korupsi. Bisa direfleksikan bersama, perguruan tinggi di negeri ini juga telah banyak menghasilkan pemimpin negara yang tidak terlibat korupsi, mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Walaupun sudah bahasan public bahwa sebuah perguruan tinggi mempunyai sistem pemerintahan layaknya sebuah negara, ada presiden beserta jajarannya serta birokrasi didalamnya. Tetapi, butuh pemikiran dan penelitian mendalam untuk menyebut perguruan tinggi sebagai pencetak koruptor.
Ria Khoiriyyah, Fakultas Tarbiyah, Mahasisiwi IAIN Walisongo Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar