Perguruan Tinggi Bukan Pencetak Koruptor
Korupsi
merupakan hal yang bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun tanpa pandang
bulu. Baik oleh para birokrat, politikus, tokoh masyarakat, ahli pendidik, dan
bisa juga dari masyarakat yang tak berpangkat. Bibit koruptor bisa dicetak
dimana saja, ketika ada kesempatan, pasti peluang praktik tindak korupsi bisa
terjadi. Mengenai statement tentang penyebutan perguruan tinggi sebagai
pencetak koruptor itu kurang tepat. Memang pada faktanya banyak para pemimpin
negara ini yang terlibat dalam kasus korupsi. Tentu kebanyakan dari mereka
pernah menduduki bangku perkuliahan untuk mencapai titelnya. Akan tetapi, pencetakan dan pembibitan
koruptor sejatinya berawal dari rendahnya moral individu itu sendiri, bukanlah
berasal dari instansi yang mereka tempati. Krisis morallah yang menjadikan
mereka selalu berkeinginan melakukan tindak korupsi. Bisa direfleksikan
bersama, perguruan tinggi di negeri ini juga telah banyak menghasilkan pemimpin
negara yang tidak terlibat korupsi, mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan
Indonesia. Walaupun sudah bahasan public bahwa sebuah perguruan tinggi
mempunyai sistem pemerintahan layaknya sebuah negara, ada presiden beserta jajarannya serta birokrasi didalamnya.
Tetapi, butuh pemikiran dan penelitian mendalam untuk menyebut perguruan tinggi
sebagai pencetak koruptor.
Ria Khoiriyyah, Fakultas Tarbiyah, Mahasisiwi
IAIN Walisongo Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar