Jumat, 11 Mei 2012

Cerpenku. Berawal dari Mimpi


Berawal dari Mimpi
            “Mimpilah setinggi-tingginya nak, karena mimpilah yang membawamu pada kesuksesan”, kata-kata itu selalu terngiang dalam telingaku.  Tertancap kuat dalam fikiranku. Tak kan luntur walaupun terbersit rasa minder dengan keadaanku. Seketika hatiku langsung tersentak, berteriak, bahwa aku punya mimpi. Aku harus meraih mimpi. Aku harus bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita itu dihadapan bapakku.
            Aku jadi ingat kisahku dulu. Waktu itu aku lulus SMP. Aku ingin sekali mewujudkan mimpiku. Ketika itu mimpiku sangat sederhana. Aku ingin melanjutkan jenjang SMA di SMA favorit di kabupatenku. Ya, bagiku dan bapakku itu sangat berat. Bapak yang hanya bekerja mengayuh becak setiap harinya harus membiayai  SMA ku.
             Aku pasrah, ga mungkin rasanya aku bisa duduk dideretan bangku-bangku yang bersandingan dengan anak-anak bergengsi, stylis, dan tentunya tajir juga mereka. Aah, saat itu bapakku cuma bisa berdo’a, semoga saja Fitri anak semata wayangnya itu  bisa melanjutkan di SMA yang dia inginkan.
             Bapak benar-benar pasrah. Aku juga tak pernah merintih dan meronta agar aku bisa sekolah di SMA. Di saat seperti itu bapakku selalu mencoba mendekatiku dengan gaya selayaknya seorang ibu. Beliau memberi motivasi dan deretan kata-kata bijak yang menggairahkan semangat mimpiku itu lagi. Tapi semua itu kalau Allah meridhoi memang semua akan terjadi. Aku hanya punya modal belajar keras dan berdo’a.
            Sungguh ajaib.  Ternyata ada pengumuman bahwa  aku mendapat peringkat 3 besar di kabupaten saat UN SMP ku. Alkhamdulillah, sebagai hadiahnya bisa melanjutkan study di SMA terfavorit tanpa biaya sepeserpun. Subhanallah, memang ini  tak bisa aku bayangkan sebelumnya, mimpiku terwujud!!!! Saat itu aku langsung sujud syukur. Tak ada kata lain selain bersyukur dan bersyukur. Waktu yang ada dalam setiap aku meniti hari di SMA itu selalu aku usahakan harus bermanfaat.  Mulai dari ikut organisasi ekskul sampai aku harus bisa minimal sebanding dengan teman-teman yang jago dikelas.
             Sekarang masa itu telah berlalu. Seperti tiga tahun silam. Aku dikamar ini merenungkan apakah keajaiban seperti saat aku ingin masuk SMA itu ini akan terjadi lagi??? Aku benar-benar ingin memberi sesuatu yang berharga didepan hadapan bapakku. Aku ingin sekali menjadi seorang bidan. Mungkin bagi orang lain itu sangat sederhana. Tapi tidak bagiku. Itu mimpi yang sangat berharga untuk bisa aku dapatkan.                                                                              
                                                                          @@@@@
            Tak terasa lamunanku tadi malam mampu menidurkanku. Waaah, aku harus bangun. Waktu sepertiga malam ini mungkin bisa menjadi momen yang pas untuk mengadu dihadapan Allah atas semua apa yang ada dibenakku saat ini.
            Ternyata bapak melihat aku masih terbaring di kamarku, bapak berjalan menuju keberadaanku.
            “Dah bangun Fit?, ayo bangun, segeralah  tahajudan nak”, kata bapak saat mencoba membangunkanku, padahal saat itu aku sudah melek.
            “Iya pak, ini Fitri lagi mau bangun”, dengan sedikit senyum menahan kantuk aku menjawab ajakan bapakku.
             Bergegas aku menuju sumur untuk mengambil wudlu. Hmmm, sangat dingin. Air sumur pagi ini ternyata mampu membelalakkan mataku yang sedari tadi masih merem melek. Kamar mandi rumahku memang masih seperti sedia kala. Hanya ada sumur dan satu gentong sebagai tempat penampungan airnya.  Rumah tua ini peninggalan nenek dan kakekku yang sudah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu. Keadaannya memang masih seperti ini.
            Bapak menjadi imam sholat malam kali ini. Beliau selalu melanggengkan tahajudan, sholat khajat dan satu raka’at sholat witir.  Setelah sholat selesai dilanjutkan dengan memanjatkan do’a-do’a yang tercurahkan dari hati dan lisan  bapak.
             Aku tertegun haru mendengar bapak berdo’a hanya karena aku. Bapak sangat ingin mewujudkan mimpiku untuk  menjadi bidan itu. Bapak merintihkan do’anya dengan pasrah kepada Allah, karena beliau sadar dan tahu bahwa dirinya tak punya apa-apa.  Bapak dan aku hanya punya Allah yang selalu memberikan keagungan-keagunganNya dihadapan para hambaNya. Allahlah yang bisa segalanya dan yang Maha kaya. Dalam hatiku yang terdalam aku meng-amini semua do’a yang bapak panjatkan itu dengan penuh harap kepada Allah.
            Aku segera mengusap air mata yang baru saja mengalir di pipiku itu dengan mukena yang ku pakai. Cengeng banget si. Ini belum seberapa Fit. Masih banyak orang yang lebih patut kita tolong. Hatiku bergumam.
       “Fit, bapak ingin bicara”, sambil membalikkan badannya ke hadapanku.
       “Iya pak,” kataku lirih.
       “Nak, bapak sudah tua. Bapak juga sering sakit-sakitan. Jujur bapak hanya mampu menyekolahkanmu sampai saat ini saja. Kalau bapak bernasib punya sawah atau punya tanah, pasti semua itu sudah bapak jual demi impianmu Fit. Atau bapak seorang PNS yang punya gaji pensiunan. Tapi bapak ini orang desa yang tak bisa berbuat banyak. Bapak hanya  bisa narik becak Fit. Bapak sebenarnya pengen sekali melihat kamu memakai baju putih yang biasa dipakai bu bidan-bu bidan itu”, bapakku berkata dengan kata yang menurutku sangat jujur dari hati beliau, sampai aku tak sanggup menatap wajah rentanya.
       Aku berusaha menanggapi pernyataan beliau.
        “Hemmm, bapak itu ada-ada saja to. Fitri juga sudah bersyukur alkhamdulillah bisa lulus SMA. Fitri sudah seneng. Apalagi ada bapak yang selalu ada disamping Fitri. Bapak ga usah mikirin ini itu. Sekarang waktunya bapak istirahat. Biar Fitri ntar yang bantu-bantu bapak. ”Aku berusaha berkata tegar dihadapan bapakku, aku ga mau bapak merasakan sedih yang berlarut-larut.
       “Bapak tetep do’a buat cita-cita dan kebahagiaanmu itu Fit” kata bapakku sambil beliau pergi setelah mencium keningku. Bapak memang sangat perhatian denganku. Mungkin bapak merasa iba dengan keadaanku yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya diberi kasih sayang seorang ibu. Melihat paras cantik ibuku saja aku belum pernah. Hanya dulu bapak pernah memperlihatkan wajah ibuku dalam sebuah foto ukuran dompet. Itupun hitam putih.
       Ibuku udah ngga ada. Bapakku pernah menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya ketika aku duduk dikelas 2 SMP. Sebelumnya bapak hanya bilang kalau ibuku kerja di sebuah kota yang sangat jauh dan akan pulang ketika aku besar.
        Tetapi kejadian sebenarnya sangat berbeda. Ketika itu ibuku hamil tua, bapakku tengah narik becak di pasar. Disaat orang-orang terlelap tidur siang ibuku merasakan nyeri diperutnya, diperut ketika keberadaanku ada disitu. Ternyata waktu itu ibu akan melahirkanku, untungnya bapakku tiba-tiba pulang. Katanya dipasar sedang sepi penumpang. Bapak bergegas pulang. Ternyata ibuku sudah mengeluarkan air ketuban dan pingsan didepan rumah. Mungkin saat itu ibuku ingin meminta pertolongan tetangga sebelah. Tapi tak ada tanggapan sama sekali. Melihat kejadian itu bapakku berteriak meminta tolong. Akhirnya tetangga sebelah mendengarnya dan bergegas kearah rumahku. Bapakku kebingungan ingin dibawa kemana ibuku. Untung saja ada tetanggaku yang bersedia menumpangi ibu dan bapakku dengan mobilnya untuk dibawa ke RS terdekat.
       Setibanya disana masih banyak persoalan tetek mbengek yang intinya pembayaran ini itu agar ibuku langsung ditangani dokter. Berhubung bapakku tidak membawa uang, akhirnya persalinan ibuku itu berjalan lambat. Ibuku mengalami pendarahan yang luar biasa. Sampai pada akhirnya nyawa ibuku tak tertolongkan. Memang sudah takdirnya aku hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi aku selalu sayang kepada ibu dan bapakku. Berawal dari kisah ibuku itu, aku ingin sekali menjadi bidan desa yang siap membantu persalinan ibu-ibu hamil agar nasib seperti ibuku tidak terjadi lagi. Walaupun itu semua kehendak Allah. Tapi setidaknya aku ingin bisa meringankan keluhan mereka dengan profesiku itu.
                                                           @@@@@
       Pagi ini aku memasak makanan kesukaan bapak. Hmmm, harum. Tempe goreng ditemani sambel terasi.  Rutinitas memasak sangat aku sukai. Ini aku pelajari dari tangan bapakku sendiri hlo. Aku bangga punya bapak seperti itu.
       Aku ntar mau cari kerjaan ah. Kan lumayan bisa bantu perekonomian keluarga ini. Masak aku harus membiarkan bapakku sendirian. Tapi kerja apa ya? Di pabrik sepertinya lumayan. Ntar siang aku cari info ah.
       “Kenapa kamu senyum sendiri Fit?,”     
       Suara bapak benar-benar mengagetkanku.
       “Hehe, ga papa pak. Ini sarapannya udah Fitri siapin. Enak hlo pak”
       “Hmmm, sepertinya anak bapak sudah pinter masak ini. Siapa yang ngajarin nak?”
       “Siapa dulu dong, bapakku...”
       Kami berdua bersendau gurah di meja makan. Aku dan bapak sudah layaknya sepasang sahabat yang sangat akrab.
       “Mau kemana kamu Fit?” tiba-tiba bapakku melihat gelagatku yang tengah rapi dengan seragam SMA ku.
       “Mau ke sekolah pak, pengen ketemu teman-teman sekelas dulu, mereka kenginginkan hari ini ketemu kangen, nanti jam 11 juga ada cap tiga jari ijazah sekolah pak,” jawabku menjelaskan.
       “Ayo mau bapak anter? Sekalian bapak narik” bapak mencoba menawarkan.
       “Hlo ini masih pagi pak, biasanya bapak narik agak siang to?”
       “Sekalian bapak berangkat ndak papa Fit, daripada kamu naik sepeda kan jauh”
       “Halah pak, wong Fitri kemana-mana juga naik sepeda, bapak ini ada-ada saja, tapi kalau bapak benar mau nganter Fitri, Fitri malah seneng pak”, aku tersenyum dihadapan bapakku.
        Aku senang bisa bertemu teman-teman yang selama 1 tahun bersama di kelas XII IPA 1. Mereka temanku yang tak membeda-bedakan satu sama lain. Walaupun bawaan mereka mobil dengan berbagai macam merk terkenal, tapi tak ada sedikitpun deskriminasi terhadap posisiku. Sejenak aku melepas tawa bersama mereka. Bersendau gurau membicarakan hal-hal lucu yang pernah kami ukir ketika masa SMA berlangsung.
       “Eh Fit, ke BK yuk.”
       Tiba-tiba Dita mengagetkanku.
       “Ngapain Dit?”
       “Aku disuruh bokap nih, cari info kuliah gitu deh. Ayo dong. Mau ya..”
       Ga pikir lama aku langsung mengamini permintaan Dita.
       “Oke Dit,”
       “Lu mau nglanjutin kemana Fit?”
       “Halaaah. Kamu itu ada-ada aja. Aku lagi pengen cari kerja ni. Kamu punya info pabrik-pabrik gitu ga?”
       “Haaah. Apa? Pabrik? Ga taulah. Emang gue satpam pabrikan apa?”
       “Yeee,,, aku kan nanya. Serius ni. Gue pengen kerja Dit.”
       “Serius lu? Lu tu pinter Fitri imuuut. Ga usah nyerah gitu dong. Masih banyak jalan menuju Roma. Hahahaaa”
       “Ternyata gue salah nanya orang kalo gini ceritanya.”
       Sepanjang jalan menuju ruang BK kami bergurau melepas kangen. Dan sampai di papan pengumuman depan BK aku dikejutkan sebuah info.
           Ayo!!!! Come join us....
           IKUTI TES PENDAFTARAN MASUK AKADEMI KEBIDANAN  (AKBID) DAERAH
          Waaaaaaw,,,,,,,,,, Ada beasiswa gratis bagi 10 orang pendaftar yang mendapat nilai tertinggi tes akbid!!!!!
       “Dit, info bagus ni. Gue jadi ngiler.”
       “Ya udah ikut aja Fit. Siapa tau lu dapet beasiswa kan?”
       “Ngaco lu Dit. Ga mungkin lah gue bisa kesitu. Pasti otaknya tok cer yang bisa ditrima.”
       “Gaya lu Fit. Mentang-mentang lu pinter ngomong kaya gitu. Eh coba aja tau. Ini akademi ngetop tau. Siapa tau lu kecantol cowok tajir disitu. Lumayan kan. Heheee”
       “Hmm, dasar Dita. Yaudah ntar gue pikir-pikir dulu ah.”
       “Jiaah. Blagu banget si lu. Eh Fit, gue baru inget, itu akademi yang bokap gue cari!!”
       “Bener lu Dit? Asyiik. Besok kita kesana bareng ya Dit.”
       “Siiip deh. Besok lu gue samper deh.”
@@@@@
       Malam ini aku harus belajar giat. Sementara berkas-berkas lamaran kerjaku aku abaikan. Besok aku akan berjuang.
       Berbagai soal SAINS aku cari. Aku buka lembar-lembar soal itu dan aku usahakan harus bisa terselesaikan. Matematika, waduuuh, aku harus konsentrasi lagi ini. Kimia, Biologi, Fisika. Bismillah. Moga aja besok aku bisa melewati soal-soal itu.
       “Belum tidur Fit?”
       “Belum pak, lagi cari kesibukan buat soal-soal dulu pak.”
       “Hlo buat apa”?
       “Daripada Fitri nglamun ga jelas pak, mending corat-coret soal ini.”
       Aku berusaha memendam rencanaku besok. Kan malu kalo aku ga diterima tapi udah pamer info ke bapak. Bapak sudah terlelap. Kasian aku menatap wajah beliau. Sudah lama beliau menduda. Tapi beliau tetap setia sama almarhumah ibundaku. Terserah bapaklah. Yang penting beliau bahagia dengan keadaan seperti ini.
       Waah, jam 01.00 pagi. Aku terlalu asyik dengan soal-soal ini. Aku harus segera mengakhiri. Kalau aku paksain ga tidur besok malah payah. Alarm jam 03.30. Siiip. Semoga saja alarm ini bisa membantu membangunkanku. Jadi deg-degan keinget tes besok. Bismillah. Semoga Engkau meridhoiku ya Allah.
@@@@@
       Selamat datang di Akademi Kebidanan. Disini saya akan membacakan beberapa tata terbit mengenai test masuk Akbid tahun 2012. Bla bla bla seorang panitia membacakan deretan tata tertib jalannya test. Tadi aku sempat kaget. Ternyata didepan ada biaya administrasi pendaftaran. Walaupun cuma 25 ribu si. Tapi itu memang benar-benar membuatku komat-kamit. Gara-gara aku Cuma bawa uang 5 ribu perak. Setelah aku mondar-mandir dari ruang ke ruang untungnya aku nemuin Dita. Aku pinjem uang dari dia deh.
       Waduuuh. Soalnya banyak banget. 400 butir soal dalam waktu 45 menit. Buseeet dah. Bismillah. Berilah hambaMu kemudahan ya Rabb. Aduuh. Ko’ ada soal Bahasa Indonesia juga ya? Gimane ni? Lewatin dulu aja deh. Mana ni Kimia. Asyiiik, soal Kimia lumayan bisa dicerna. Moga aja jawabanku tepat.
       15 menit lagi. Ya Allah, beri hambaMu kemudahan, ridhoilah apa yan aku kerjakan sekarang ini Ya Rabb. Aku harus bisa!.
       “Kepada semua peserta test masuk akbid tahun 2011 untuk segera meninggalkan meja masing-masing. Dan diumumkan juga agar peserta tidak meninggalkan area akbid, karena selama 1 jam penilaian akan dilaksanakan. Bagi peserta yang masuk dalam 10 besar diharap langsung menyiapkan diri untuk melakukan test fisik di laboratorium. Sekian terimakasih.”
       Aku segera keluar dari ruangan. Alkhamdulillah aku merasa plong. Wallahua’lam deh jawabanku tadi.
       “Gimana Fit? Sukses?” Tiba-tiba Dita menepuk punggungku.
       “Lumayan pusing si Dit. Kamu gimana?
       “Hahaaa... emang lu aje yang pusing. Ayo gue traktir Fit. Biar ga pusing cari yang seger-seger”
       “Asyiiik. Yuk Dit”
       Satu jam berlalu. Aku dan Dita segera menuju aula akbid. Kami sudah ga sabar melihat pengumuman itu. Kakiku terasa berat melangkah menuju aula. Terlihat kerumunan siswa yang menggerombol menyaksikan pengumuman itu. Aku semakin gemetar.
       “Dit, tolong liatin nomor 2122 dong, kamu kan tinggi” pintaku kepada Dita. Tidak ada respon dari Dita. Mungkin dia juga kebingungan nyari nomor pesertanya. Tiba-tiba banyak teriakan bermunculan dari sampingku. Mereka diterima. Itu tandanya mereka bebas biaya jadi mahasiswa akbid. Hmm, beruntung sekali mereka. Banyak juga yang terlihat murung. Buktinya mereka ga dapet beasiswa itu. Aku golongan beruntung atau tidak ini? Aku belum juga menyaksikan pengumuman itu. Aku ingin liat nanti aja kalo udah longgar tempatnya ah. Gumamku dalam hati.
       “Fitri...Lu ketrima tau. Gila banget si lu.”
       “Ah ngaco lu Dit, aku mau nonton ntar aja ah,”
       “Fitri,,, gue serius. Lu temasuk 10 besar, sekarang cepet le laboratorium buat tes fisik. Waktu tinggal menit lagi.”
       Tanpa berfikir panjang aku langsung lari menuju lab. Alkhamdulillah ternyata aku benar-benar diterima dan dapat beasiswa sampai lulus dari akbid. Terimakasih ya Rabb. Engkau yang memberi keridhoanMu. Karena hanya Engkaulah Tuhan seluruh umat ini. Disepanjang perjalanan pulang menuju rumah aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Terima kasih ya Allah. Aku sudah ga sabar memberi kabar indah ini ke bapakku. Semua berawal dari mimpi!!!
@@@@@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar