Berawal
dari Mimpi
“Mimpilah
setinggi-tingginya nak, karena mimpilah yang membawamu pada kesuksesan”,
kata-kata itu selalu terngiang dalam telingaku.
Tertancap kuat dalam fikiranku. Tak kan luntur walaupun terbersit rasa
minder dengan keadaanku. Seketika hatiku langsung tersentak, berteriak, bahwa
aku punya mimpi. Aku harus meraih mimpi. Aku harus bisa mewujudkan mimpi dan
cita-cita itu dihadapan bapakku.
Aku
jadi ingat kisahku dulu. Waktu itu aku lulus SMP. Aku ingin sekali mewujudkan
mimpiku. Ketika itu mimpiku sangat sederhana. Aku ingin melanjutkan jenjang SMA
di SMA favorit di kabupatenku. Ya, bagiku dan bapakku itu sangat berat. Bapak
yang hanya bekerja mengayuh becak setiap harinya harus membiayai SMA ku.
Aku pasrah, ga mungkin rasanya aku bisa duduk
dideretan bangku-bangku yang bersandingan dengan anak-anak bergengsi, stylis,
dan tentunya tajir juga mereka. Aah, saat itu bapakku cuma bisa berdo’a, semoga
saja Fitri anak semata wayangnya itu bisa
melanjutkan di SMA yang dia inginkan.
Bapak benar-benar pasrah. Aku juga tak pernah
merintih dan meronta agar aku bisa sekolah di SMA. Di saat seperti itu bapakku
selalu mencoba mendekatiku dengan gaya selayaknya seorang ibu. Beliau memberi
motivasi dan deretan kata-kata bijak yang menggairahkan semangat mimpiku itu
lagi. Tapi semua itu kalau Allah meridhoi memang semua akan terjadi. Aku hanya
punya modal belajar keras dan berdo’a.
Sungguh
ajaib. Ternyata ada pengumuman bahwa aku mendapat peringkat 3 besar di kabupaten
saat UN SMP ku. Alkhamdulillah, sebagai hadiahnya bisa melanjutkan study di SMA
terfavorit tanpa biaya sepeserpun. Subhanallah, memang ini tak bisa aku bayangkan sebelumnya, mimpiku
terwujud!!!! Saat itu aku langsung sujud syukur. Tak ada kata lain selain
bersyukur dan bersyukur. Waktu yang ada dalam setiap aku meniti hari di SMA itu
selalu aku usahakan harus bermanfaat. Mulai
dari ikut organisasi ekskul sampai aku harus bisa minimal sebanding dengan
teman-teman yang jago dikelas.
Sekarang masa itu telah berlalu. Seperti tiga
tahun silam. Aku dikamar ini merenungkan apakah keajaiban seperti saat aku ingin
masuk SMA itu ini akan terjadi lagi??? Aku benar-benar ingin memberi sesuatu
yang berharga didepan hadapan bapakku. Aku ingin sekali menjadi seorang bidan.
Mungkin bagi orang lain itu sangat sederhana. Tapi tidak bagiku. Itu mimpi yang
sangat berharga untuk bisa aku dapatkan.
@@@@@
Tak
terasa lamunanku tadi malam mampu menidurkanku. Waaah, aku harus bangun. Waktu
sepertiga malam ini mungkin bisa menjadi momen yang pas untuk mengadu dihadapan
Allah atas semua apa yang ada dibenakku saat ini.
Ternyata
bapak melihat aku masih terbaring di kamarku, bapak berjalan menuju
keberadaanku.
“Dah
bangun Fit?, ayo bangun, segeralah tahajudan nak”, kata bapak saat mencoba
membangunkanku, padahal saat itu aku sudah melek.
“Iya
pak, ini Fitri lagi mau bangun”, dengan sedikit senyum menahan kantuk aku
menjawab ajakan bapakku.
Bergegas aku menuju sumur untuk mengambil
wudlu. Hmmm, sangat dingin. Air sumur pagi ini ternyata mampu membelalakkan
mataku yang sedari tadi masih merem melek. Kamar mandi rumahku memang masih
seperti sedia kala. Hanya ada sumur dan satu gentong sebagai tempat penampungan
airnya. Rumah tua ini peninggalan nenek
dan kakekku yang sudah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu. Keadaannya
memang masih seperti ini.
Bapak
menjadi imam sholat malam kali ini. Beliau selalu melanggengkan tahajudan,
sholat khajat dan satu raka’at sholat witir. Setelah sholat selesai dilanjutkan dengan
memanjatkan do’a-do’a yang tercurahkan dari hati dan lisan bapak.
Aku tertegun haru mendengar bapak berdo’a
hanya karena aku. Bapak sangat ingin mewujudkan mimpiku untuk menjadi bidan itu. Bapak merintihkan do’anya
dengan pasrah kepada Allah, karena beliau sadar dan tahu bahwa dirinya tak
punya apa-apa. Bapak dan aku hanya punya
Allah yang selalu memberikan keagungan-keagunganNya dihadapan para hambaNya.
Allahlah yang bisa segalanya dan yang Maha kaya. Dalam hatiku yang terdalam aku
meng-amini semua do’a yang bapak panjatkan itu dengan penuh harap kepada Allah.
Aku
segera mengusap air mata yang baru saja mengalir di pipiku itu dengan mukena
yang ku pakai. Cengeng banget si. Ini belum seberapa Fit. Masih banyak orang
yang lebih patut kita tolong. Hatiku bergumam.
“Fit,
bapak ingin bicara”, sambil membalikkan badannya ke hadapanku.
“Iya
pak,” kataku lirih.
“Nak,
bapak sudah tua. Bapak juga sering sakit-sakitan. Jujur bapak hanya mampu menyekolahkanmu
sampai saat ini saja. Kalau bapak bernasib punya sawah atau punya tanah, pasti
semua itu sudah bapak jual demi impianmu Fit. Atau bapak seorang PNS yang punya
gaji pensiunan. Tapi bapak ini orang desa yang tak bisa berbuat banyak. Bapak
hanya bisa narik becak Fit. Bapak
sebenarnya pengen sekali melihat kamu memakai baju putih yang biasa dipakai bu
bidan-bu bidan itu”, bapakku berkata dengan kata yang menurutku sangat jujur
dari hati beliau, sampai aku tak sanggup menatap wajah rentanya.
Aku
berusaha menanggapi pernyataan beliau.
“Hemmm, bapak itu ada-ada saja to. Fitri juga
sudah bersyukur alkhamdulillah bisa lulus SMA. Fitri sudah seneng. Apalagi ada
bapak yang selalu ada disamping Fitri. Bapak ga usah mikirin ini itu. Sekarang
waktunya bapak istirahat. Biar Fitri ntar yang bantu-bantu bapak. ”Aku berusaha
berkata tegar dihadapan bapakku, aku ga mau bapak merasakan sedih yang
berlarut-larut.
“Bapak
tetep do’a buat cita-cita dan kebahagiaanmu itu Fit” kata bapakku sambil beliau
pergi setelah mencium keningku. Bapak memang sangat perhatian denganku. Mungkin
bapak merasa iba dengan keadaanku yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya
diberi kasih sayang seorang ibu. Melihat paras cantik ibuku saja aku belum
pernah. Hanya dulu bapak pernah memperlihatkan wajah ibuku dalam sebuah foto ukuran
dompet. Itupun hitam putih.
Ibuku
udah ngga ada. Bapakku pernah menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya
ketika aku duduk dikelas 2 SMP. Sebelumnya bapak hanya bilang kalau ibuku kerja
di sebuah kota yang sangat jauh dan akan pulang ketika aku besar.
Tetapi kejadian sebenarnya sangat berbeda. Ketika
itu ibuku hamil tua, bapakku tengah narik becak di pasar. Disaat orang-orang
terlelap tidur siang ibuku merasakan nyeri diperutnya, diperut ketika
keberadaanku ada disitu. Ternyata waktu itu ibu akan melahirkanku, untungnya bapakku
tiba-tiba pulang. Katanya dipasar sedang sepi penumpang. Bapak bergegas pulang.
Ternyata ibuku sudah mengeluarkan air ketuban dan pingsan didepan rumah. Mungkin
saat itu ibuku ingin meminta pertolongan tetangga sebelah. Tapi tak ada
tanggapan sama sekali. Melihat kejadian itu bapakku berteriak meminta tolong. Akhirnya
tetangga sebelah mendengarnya dan bergegas kearah rumahku. Bapakku kebingungan
ingin dibawa kemana ibuku. Untung saja ada tetanggaku yang bersedia menumpangi
ibu dan bapakku dengan mobilnya untuk dibawa ke RS terdekat.
Setibanya
disana masih banyak persoalan tetek mbengek yang intinya pembayaran ini itu
agar ibuku langsung ditangani dokter. Berhubung bapakku tidak membawa uang,
akhirnya persalinan ibuku itu berjalan lambat. Ibuku mengalami pendarahan yang
luar biasa. Sampai pada akhirnya nyawa ibuku tak tertolongkan. Memang sudah
takdirnya aku hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi aku selalu sayang
kepada ibu dan bapakku. Berawal dari kisah ibuku itu, aku ingin sekali menjadi
bidan desa yang siap membantu persalinan ibu-ibu hamil agar nasib seperti ibuku
tidak terjadi lagi. Walaupun itu semua kehendak Allah. Tapi setidaknya aku
ingin bisa meringankan keluhan mereka dengan profesiku itu.
@@@@@
Pagi
ini aku memasak makanan kesukaan bapak. Hmmm, harum. Tempe goreng ditemani
sambel terasi. Rutinitas memasak sangat
aku sukai. Ini aku pelajari dari tangan bapakku sendiri hlo. Aku bangga punya
bapak seperti itu.
Aku
ntar mau cari kerjaan ah. Kan lumayan bisa bantu perekonomian keluarga ini.
Masak aku harus membiarkan bapakku sendirian. Tapi kerja apa ya? Di pabrik
sepertinya lumayan. Ntar siang aku cari info ah.
“Kenapa
kamu senyum sendiri Fit?,”
Suara
bapak benar-benar mengagetkanku.
“Hehe,
ga papa pak. Ini sarapannya udah Fitri siapin. Enak hlo pak”
“Hmmm,
sepertinya anak bapak sudah pinter masak ini. Siapa yang ngajarin nak?”
“Siapa
dulu dong, bapakku...”
Kami
berdua bersendau gurah di meja makan. Aku dan bapak sudah layaknya sepasang
sahabat yang sangat akrab.
“Mau
kemana kamu Fit?” tiba-tiba bapakku melihat gelagatku yang tengah rapi dengan
seragam SMA ku.
“Mau
ke sekolah pak, pengen ketemu teman-teman sekelas dulu, mereka kenginginkan
hari ini ketemu kangen, nanti jam 11 juga ada cap tiga jari ijazah sekolah
pak,” jawabku menjelaskan.
“Ayo
mau bapak anter? Sekalian bapak narik” bapak mencoba menawarkan.
“Hlo
ini masih pagi pak, biasanya bapak narik agak siang to?”
“Sekalian
bapak berangkat ndak papa Fit, daripada kamu naik sepeda kan jauh”
“Halah
pak, wong Fitri kemana-mana juga naik sepeda, bapak ini ada-ada saja, tapi
kalau bapak benar mau nganter Fitri, Fitri malah seneng pak”, aku tersenyum
dihadapan bapakku.
Aku senang bisa bertemu teman-teman yang
selama 1 tahun bersama di kelas XII IPA 1. Mereka temanku yang tak
membeda-bedakan satu sama lain. Walaupun bawaan mereka mobil dengan berbagai
macam merk terkenal, tapi tak ada sedikitpun deskriminasi terhadap posisiku.
Sejenak aku melepas tawa bersama mereka. Bersendau gurau membicarakan hal-hal
lucu yang pernah kami ukir ketika masa SMA berlangsung.
“Eh
Fit, ke BK yuk.”
Tiba-tiba
Dita mengagetkanku.
“Ngapain
Dit?”
“Aku
disuruh bokap nih, cari info kuliah gitu deh. Ayo dong. Mau ya..”
Ga
pikir lama aku langsung mengamini permintaan Dita.
“Oke
Dit,”
“Lu
mau nglanjutin kemana Fit?”
“Halaaah.
Kamu itu ada-ada aja. Aku lagi pengen cari kerja ni. Kamu punya info
pabrik-pabrik gitu ga?”
“Haaah.
Apa? Pabrik? Ga taulah. Emang gue satpam pabrikan apa?”
“Yeee,,,
aku kan nanya. Serius ni. Gue pengen kerja Dit.”
“Serius
lu? Lu tu pinter Fitri imuuut. Ga usah nyerah gitu dong. Masih banyak jalan
menuju Roma. Hahahaaa”
“Ternyata
gue salah nanya orang kalo gini ceritanya.”
Sepanjang
jalan menuju ruang BK kami bergurau melepas kangen. Dan sampai di papan
pengumuman depan BK aku dikejutkan sebuah info.
Ayo!!!! Come join us....
IKUTI TES PENDAFTARAN MASUK AKADEMI KEBIDANAN (AKBID) DAERAH
Waaaaaaw,,,,,,,,,, Ada beasiswa gratis bagi 10 orang pendaftar yang
mendapat nilai tertinggi tes akbid!!!!!
“Dit, info bagus ni. Gue jadi ngiler.”
“Ya
udah ikut aja Fit. Siapa tau lu dapet beasiswa kan?”
“Ngaco
lu Dit. Ga mungkin lah gue bisa kesitu. Pasti otaknya tok cer yang bisa
ditrima.”
“Gaya
lu Fit. Mentang-mentang lu pinter ngomong kaya gitu. Eh coba aja tau. Ini
akademi ngetop tau. Siapa tau lu kecantol cowok tajir disitu. Lumayan kan.
Heheee”
“Hmm,
dasar Dita. Yaudah ntar gue pikir-pikir dulu ah.”
“Jiaah.
Blagu banget si lu. Eh Fit, gue baru inget, itu akademi yang bokap gue cari!!”
“Bener
lu Dit? Asyiik. Besok kita kesana bareng ya Dit.”
“Siiip
deh. Besok lu gue samper deh.”
@@@@@
Malam
ini aku harus belajar giat. Sementara berkas-berkas lamaran kerjaku aku
abaikan. Besok aku akan berjuang.
Berbagai
soal SAINS aku cari. Aku buka lembar-lembar soal itu dan aku usahakan harus
bisa terselesaikan. Matematika, waduuuh, aku harus konsentrasi lagi ini. Kimia,
Biologi, Fisika. Bismillah. Moga aja besok aku bisa melewati soal-soal itu.
“Belum
tidur Fit?”
“Belum
pak, lagi cari kesibukan buat soal-soal dulu pak.”
“Hlo
buat apa”?
“Daripada
Fitri nglamun ga jelas pak, mending corat-coret soal ini.”
Aku
berusaha memendam rencanaku besok. Kan malu kalo aku ga diterima tapi udah
pamer info ke bapak. Bapak sudah terlelap. Kasian aku menatap wajah beliau.
Sudah lama beliau menduda. Tapi beliau tetap setia sama almarhumah ibundaku.
Terserah bapaklah. Yang penting beliau bahagia dengan keadaan seperti ini.
Waah,
jam 01.00 pagi. Aku terlalu asyik dengan soal-soal ini. Aku harus segera
mengakhiri. Kalau aku paksain ga tidur besok malah payah. Alarm jam 03.30.
Siiip. Semoga saja alarm ini bisa membantu membangunkanku. Jadi deg-degan
keinget tes besok. Bismillah. Semoga Engkau meridhoiku ya Allah.
@@@@@
Selamat
datang di Akademi Kebidanan. Disini saya akan membacakan beberapa tata terbit
mengenai test masuk Akbid tahun 2012. Bla bla bla seorang panitia membacakan
deretan tata tertib jalannya test. Tadi aku sempat kaget. Ternyata didepan ada
biaya administrasi pendaftaran. Walaupun cuma 25 ribu si. Tapi itu memang
benar-benar membuatku komat-kamit. Gara-gara aku Cuma bawa uang 5 ribu perak.
Setelah aku mondar-mandir dari ruang ke ruang untungnya aku nemuin Dita. Aku
pinjem uang dari dia deh.
Waduuuh.
Soalnya banyak banget. 400 butir soal dalam waktu 45 menit. Buseeet dah.
Bismillah. Berilah hambaMu kemudahan ya Rabb. Aduuh. Ko’ ada soal Bahasa
Indonesia juga ya? Gimane ni? Lewatin dulu aja deh. Mana ni Kimia. Asyiiik,
soal Kimia lumayan bisa dicerna. Moga aja jawabanku tepat.
15
menit lagi. Ya Allah, beri hambaMu kemudahan, ridhoilah apa yan aku kerjakan
sekarang ini Ya Rabb. Aku harus bisa!.
“Kepada
semua peserta test masuk akbid tahun 2011 untuk segera meninggalkan meja
masing-masing. Dan diumumkan juga agar peserta tidak meninggalkan area akbid,
karena selama 1 jam penilaian akan dilaksanakan. Bagi peserta yang masuk dalam
10 besar diharap langsung menyiapkan diri untuk melakukan test fisik di
laboratorium. Sekian terimakasih.”
Aku
segera keluar dari ruangan. Alkhamdulillah aku merasa plong. Wallahua’lam deh
jawabanku tadi.
“Gimana
Fit? Sukses?” Tiba-tiba Dita menepuk punggungku.
“Lumayan
pusing si Dit. Kamu gimana?
“Hahaaa...
emang lu aje yang pusing. Ayo gue traktir Fit. Biar ga pusing cari yang
seger-seger”
“Asyiiik.
Yuk Dit”
Satu
jam berlalu. Aku dan Dita segera menuju aula akbid. Kami sudah ga sabar melihat
pengumuman itu. Kakiku terasa berat melangkah menuju aula. Terlihat kerumunan
siswa yang menggerombol menyaksikan pengumuman itu. Aku semakin gemetar.
“Dit,
tolong liatin nomor 2122 dong, kamu kan tinggi” pintaku kepada Dita. Tidak ada
respon dari Dita. Mungkin dia juga kebingungan nyari nomor pesertanya.
Tiba-tiba banyak teriakan bermunculan dari sampingku. Mereka diterima. Itu
tandanya mereka bebas biaya jadi mahasiswa akbid. Hmm, beruntung sekali mereka.
Banyak juga yang terlihat murung. Buktinya mereka ga dapet beasiswa itu. Aku golongan
beruntung atau tidak ini? Aku belum juga menyaksikan pengumuman itu. Aku ingin
liat nanti aja kalo udah longgar tempatnya ah. Gumamku dalam hati.
“Fitri...Lu
ketrima tau. Gila banget si lu.”
“Ah
ngaco lu Dit, aku mau nonton ntar aja ah,”
“Fitri,,,
gue serius. Lu temasuk 10 besar, sekarang cepet le laboratorium buat tes fisik.
Waktu tinggal menit lagi.”
Tanpa
berfikir panjang aku langsung lari menuju lab. Alkhamdulillah ternyata aku
benar-benar diterima dan dapat beasiswa sampai lulus dari akbid. Terimakasih ya
Rabb. Engkau yang memberi keridhoanMu. Karena hanya Engkaulah Tuhan seluruh
umat ini. Disepanjang perjalanan pulang menuju rumah aku tak henti-hentinya
mengucap syukur. Terima kasih ya Allah. Aku sudah ga sabar memberi kabar indah
ini ke bapakku. Semua berawal dari mimpi!!!
@@@@@
Tidak ada komentar:
Posting Komentar