Rabu, 12 September 2012

Penanganan Maksimal


Penanganan Maksimal
on Suara Kampus, Republika, 12 September 2012
Kasus yang sampai saat ini kalang kabut ditengah masyarakat adalah insiden radikal yang dilakukan oleh kelompok terror. Walaupun kejadian yang meresahkan warga itu masih tumbuh berkembang di Indonesia, tetapi menurut saya  penangan aksi terorisme di Indonesia sudah cukup maksimal. Ini dibuktikan dengan beraksi aktifnya anggota kepolisian, densus 88 serta pihak TNI. Mereka sudah berusaha keras memberantas terorisme yang juga dibantu oleh pihak pemerintah Indonesia sendiri. Bukti penanganan teroris yang dilakukan pemerintah juga telah kita rasakan dengan diadakannya e-ktp. Pemerintah mencanangkan program e-ktp salah satu tujuannya agar meminimalisir anggota teroris.
Ria Khoiriyyah, Mahasiswi PAI Fakultas Tarbiyah, IAIN WALISONGO SEMARANG.

Minggu, 17 Juni 2012

Menari di Jam Kosong

 Menari Di Jam Kosong
Detik ini aku mulai menari. Ditempat sedikit ramai. Ditempat ber AC hingga aku sempat terbatuk menahan dingin. Anak kampung yang tak terbiasa hidup mewah memang. Di sebelah orang-orang asing. Disebelah orang-orang berpengalaman dan berpendidikan. Aku merantau dari seberang demi menggaet ilmu. Orang tua tak memaksaku membantu mereka bekerja. Hanya untuk belajar untuk saat ini. Waktuku belum semuanya terpakai. Banyak kesempatan yang terbuang sia-sia. Aku menghela nafas. Senaifkah jika mipiku menjadi seorang penulis terwujud. Disini, detik ini, di perpustakaan jariku menari menghabiskan jam kosong. Menari diatas kertas kusam yang terbuang.

Jumat, 01 Juni 2012


Grasi Terkesan Bertekuk Lutut
            Grasi terhadap Corby si ratu ganja bagi saya sangat tidak lazim. Selama ini belum pernah terdengar ada grasi sampai 5 tahun bagi warga tahanan sendiri. Padahal hukuman bagi terpidana narkoba sekaliber Corby layak jika harus menetap di sel tahanan selama 20 tahun. Toh kategori tindak kejahatan yang dilakukan memang kelas kakap dilihat dari daya rusak perbuatannya. Ini terkesan bahwa Indonesia yang sejatinya merupakan Negara berkembang seolah-olah bertekuk lutut pada tekanan pihak asing dalam relasi dengan Negara besar.
            Walaupun dilihat dari sisi diplomasi, grasi Corby sah-sah saja apalagi jika dikaitkan dengan hak prerogative presiden yang dijamin oleh konstitusi. Tetapi timing grasi Corby kurang tepat jika hanya berkiblat pada kebijakan diplomasi tersebut. Ini akan menimbulkan polemik besar dari publik. Jelas saja, disaat Indonesia menggembor-gemborkan anti narkoba bahkan perang melawan narkoba malah grasi sebesar itu ditujukan untuk ratu ganja. Pemerintah juga harus mendengarkan suara warganya. Tidak dengan grasi seperti itu jika memang ada niat dibalik kebijakan tersebut agar tahanan WNI mendapat perlakuan sama di penjara Negara asing. Kecemburuan sosial pada publik akan terjadi jika grasi diberikan pada Corby.
            Ria Khoiriyyah, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN WALISONGO SEMARANG_
           

Senin, 21 Mei 2012


Sabtu, 19 Mei 2012.
Sempet deg-degan, minderrr, ga PeDe... Huhhhh, galau deh pokoknya... Tanggal 19-20 Mei kemarin Q ma Ana Riezky Saputry (Aenoys) nggembel gitu deh. Izin pulang dari asrama, tapi nyatanya join acara writing super camp II di Mijen. hhhaa. ga papa lah, boong dikit ma pak kyai, tapi kan qita ga kaburrr. Waktu itu q sempet bimbang, ngikut ga ya? Atas berkat Allah yang Maha Kuasa akhirnya Q mutusin untuk ngikut. Ya galaulah, Q tu ga da bakat nulis sama sekali, cuma pengen aja jadi penulis hebat kaya penulis penulis handal negeri ini. Hari Sabtu Q ma Anoyz smsn tu ma mb. mu'awanah, ketua FLP cabang ngaliyan. qt sempet bingung kan, ke mijennya naik apa? motor masih di dealer. akhirnya ma sopir lah. Orang kayaaa. >.<. sopir bus maksudnya. ternyata kata mb. ketuanya emang suruh ngebis aja. Lamaaaa bangt nunggu ikhwan ma akhwat lain. setelah berrrrrrr menit-menit nunggu akhirnya kami berangkat. Hmmmm,,, masih deg-degan juga si. Kayanya berat bangt mau ngangkat kaki menuju lokasi. Lagi-lagi karena Q ga bakat itu. Hmmmm, nyampe Mijen, tempatnya asyik gitu deh, di desa yang masihhhhh desaaaa bangt, asri, hmmm, segerrr tempatnya juga banyak saung-saungnya gitu deh. Tepatnya di SDIT Cahaya Bangsa, Mijen, Semarang. Berasa keinget masa kecil dulu. Eh, setelah pengumpulan karya dan registrasi serta bla bla bla.... unik juga ni acara. Pokoknya cowo ma cewe bener-bener di pisah banget. Jadi ga bisa lirik kanan kiri... (muslimah yang baik harus gitu dong :D). Mulai tempat parkir, lokasi, tempat istirahat n tempat singgah tu dipisah antara ikhwan dan akhwat. Kalo toilet ya emang dipisah dari dulu ;P. Lanjut.... Acara dimulai dengan imashol. Abis itu materi materi yang bejibun banget. Ada paradigma keFLPan, ada pengertian FLP, cara nulis, nerbitin, hingga ngebukuin tulisan. Banyak banget deh ilmu yang dapet Q ambil. Berawal dari kedinginan suasana, berubah 180 derajat jadi akrab, jadi kenal ma akhwat-akhwat lain.  
Malam minggu, 20 Mei 2012
Acara dilanjut masih dengan materi. Tapi sebelumnya Q sempet dibuat senam jantung ma panitia. Bayangin aja, qt disuruh buat cerpen 8 sampe 12 halaman dalam waktu cuma semalem. Semalem si kecil, tapiii kalo malam hari tu bener-bener ga ada kegiatan. Yang bener aja, acara malam aja selesai sampai jam setengah 11 malem. Aduuuh, udahbprotes besar-besaran ni mata pengen merem. akhirnya dengan sedikit berat hati semua peserta bener-bener begadang nglembur semalaman ngrampungin tu cerpen. Temanya lumayan nggregeti. Tentang Kearifan Lokal Sem,arangan.

Sabtu, 12 Mei 2012

Tak Perlu Dikecilkan, Tetap Kumandangkan Adzan


Tak Perlu Dikecilkan
Adzan adalah sebuah panggilan yang urgen, pengingat, serta penanda bagi masuknya waktu sholat bagi kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Tidak seorang ulama’ atau tokoh agama manapun yang memandang bid’ah adzan dengan pengeras suara. Ini sangat tidak lazim jika ada orang yang merasa terganggu dengan suara adzan. Toh suara adzan dikumandangkan hanya pada waktu masuknya sholat saja.
            Atas dasar apa jika volume speaker suara adzan perlu dikecilkan, dengan sebagian besar penduduk Indonesia sendiri beragama Islam? Ataukah ini mengganggu umat beragama nonis? Nonis pun mereka juga tenang-tenang saja, jika mereka mempunyai sikap tenggang rasa terhadap ritual agama lain. Realitanya, riuh musik sering kita dengar di sekitar kita tanpa ada complain. Ini statement yang sangat memalukan.
Penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala sudah diatur dan dikeluarkan oleh Dirjen Bimas Islam Depag pada tahun 1978. Isi peraturan tersebut antara lain aturan mengenai peletakan corong speakerSpeaker yang ditujukan keluar masjid hanya berfungsi untuk mengumandangkan adzan, sedangkan speaker untuk bacaan shalat, serta do’a tidak perlu ditujukan keluar masjid, sehingga tidak melanggar ketentuan syara’ yang melarang sholat dengan bacaan jahr (keras) pada waktu-waktu tertentu.
Jelas bahwa tidak ada larangan mengecilkan volume suara adzan dilihat dari perspektif syara’ (dengan bukti Bilal Bin Rabbah adalah orang pertama yang ditunjuk Rasulullah untuk mengumandangkan adzan sebagai penanda datangnya waktu shalat)  ataupun undang-undang yang berlaku di Indonesia ini. Hanya perlu kajian mendalami syari’at Islam dan tinjauan ulang serta lebih bertenggang rasa jika ada orang yang terganggu dengan volume suara adzan yang biasanya lantang.
Ria Khoiriyyah, Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Walisongo Semarang

Mencekik Rakyat
On Republika, april 2012
Simpang siurnya rancangan tentang pembelian pesawat Sukhoi hanya dijadikan penyetaraan status.Indonesia tak mau dipandang sebelah mata oleh Negara tetangga yang Alutsistanya lebih modern dan canggih. Malaysia, Singapura serta Negara tetangga tidak bisa dijadikan patokan Indonesia. Negara-negara tersebut memang pantas memiliki Alutsista canggih. Ini juga harus dilihat keberadaan rakyat yang sudah mencapai status sejahtera. Berbeda jauh dengan Indonesia.  Ditengah krisis kesejahteraan rakyat seperti ini tidak sepantasnya membicarakan harga diri. Indonesia yang notabene masih berstatus Negara berkembang harus lebih mementingkan rakyat terlebih dahulu. Kisaran harga milyaran juga terdengar diimbangi dengan penggelembungan harga hingga mencapai triliunan rupiah. Ini sangat disayangkan. Tidak sepantasnya pemerintah tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu akan tambah mencekik rakyat. Rakyat menolak rancangan pembelian pesawat ini karena telah banyak terjadi pembohongan karakter pemerintah. Akhirnya juga akan terselip korupsi. Masalah pembelian pesawat seharusnya Indonesia membeli pesawat dalam negeri saja. Toh sistem kerjanya juga tidak jauh dari Sukhoi asal Rusia itu.
Ria Khoiriyyah
IAIN WALISONGO SEMARANG

Krisis Kejujuran, Pendidikan Anti Korupsi


Krisis Kejujuran, Pendidikan Anti Korupsi
Ide cemerlang bagi kita dengan adanya gagasan dari Kemendignas dan KPK mengenai akan diadakannya Pendidikan Anti Korupsi Juli mendatang. Ide itu muncul ditengah menjamurnya praktik tindak korupsi dalam institusi Negara yang melibatkan elite dan petinggi partai politik serta pejabat saat ini yang sangat merugikan Negara. Tentunya mereka adalah orang-orang terdidik di negara kita. diarenakan hanya sisi keintelektualan saja yang mereka miliki, akhirnya hal-hal burukpun mereka lakukan. Sangat ironis jika pendidikan hanya memandang aspek intelektual saja tanpa menghiraukan aspek moral. Krisis kejujuran semakin marak.
Mulai banyaknya persoalan krusial pendidikan seperti UN, kapitalisasi dan komersalisasi pendidikan yang selalu dihiasi dengan tindak kecurangan, gagasan Pendidikan Anti Korupsi memang tepat jika benar-benar diterapkan. Kecurangan-kecurangan itu adalah pemicu praktik korupsi. Menengok sedikit mengenai sifat yang ada pada diri Nabi Muhammad. Awal kali yang disebutkan adalah sifat jujur (shiddiq). Bukan diawali dengan sifat cerdas (fathonah). Karena apabila jujur tidak ada pada diri seorang professor ataupun cendekiawan sekalipun, semua hal akan dilakukan dengan segala cara. Dalam menghindari hal ini sekolah harus menjadi tempat pelaksanaan pendidikan karakter untuk menyemaikan nilai-nilai kejujuran.
            Dunia pembelajaran selama ini hanya mengunggulkan aspek kognitif. Aspek afektif sangat termarginalkan. Mengenai pembentukan kepribadian memang harus menggunakan teladan nyata. Pendidik harus menorehkan sikap yang benar-benar menjadi teladan bagi karakter anak didiknya. Dimulai mengajarkan kedisiplin dan kejujuran kepada anak didik saat ulangan misalnya. Praktik keseharian pendidik juga harus sejalan dengan tujuan Pendidikan Anti Korupsi, bukan hanya peserta didik saja yang mengaplikasikan hal tersebut. Tetapi dengan keseimbangan tersebut, masyarakat lain diharapkan mendapat manfaat dari Pendidikan Anti Korupsi.
            Ketidakjujuran dan kebodohan memang faktor penunjang tindak korupsi terjadi. Jika penyakit itu menyerang, sesorang akan suka berlaku secara instan, seperti korupsi. Dengan adanya hal tersebut, kurikulum yang diharapkan bagi Pendidikan Anti Korupsi mendatang mampu terealisasikan sehingga membuahkan hasil nyata demi meminimalisir tindak korupsi.
RIA KHOIRIYYAH, MAHASISWI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, FAKULTAS TARBIYAH, IAIN WALISONGO SEMARANG. 

Mencoreng Islam
On republika, 28 april 2012
Terorisme merupakan masalah kompleks dan multi dimensi. Berakhirnya perang dingin AS dan Rusia memunculkan wacana permusuhan Barat terhadap Islam. Pengeboman WTC 11 September 2001 memunculkan statemen George Bush “ bahwa negara-negara di dunia hanya mempunyai dua pilihan. Ikut Amerika atau kalau tidak ikut, berarti menjadi musuh kami”.
Menurut saya, para otak terorisme harus dibersihkan, pelakunya dihukum mati. Mereka mengangkat bendera Islam, mengaku-ngaku jihad dijalan Allah. Itu sangat mencoreng nama Islam. Para teroris menganggap bahwa ajaran yang dianut paling benar. Ini menyebabkan pandanga minor. Tidak respect terhadap agama lain dan penganutnya. Dengan sikap yang lebih ekstrim, agama lain dan pengautnya adalah musuh. Mengapa harus dihukum mati? Tentu saja karena perlakuan teroris benar-benar radikal. Mereka tidak mempunyai rasa kemanusiaan. Pengeboman bukan ide tepat untuk memberantas kemaksiatan. Faktor ideology atau agama : Terorisme merupakan bentuk dari akibat pemahaman agama yang parsial atau dangkal yang bisa membuat agama menjadi bentuk yang radikal. Hal ini berlaku bagi setiap agama. Termasuk pemahaman agama Islam yang parsial atau setengah-setengah, berakibat menghilangkan tujuan syara’ yang rahmatan lil ‘alamin. Jelas saja, oknum peneror itu telah menggulingkan nyawa manusia-manusia lain yang belum tentu lebih buruk dari teroris itu, Padahal Islam mempunyai sebuah kaidah “ Al muslimu man salimal muslimuna min lisanihi wa yadihi”. Orang Islam adalah orang yang dengan lisan dan tangannya membuat selamat orang lain.
            By : Ria Khoiriyyah
            Fakultas Tarbiyah IAIN WALISONGO
                                                                                           

Jumat, 11 Mei 2012

Perguruan Tinggi bukan Pencetak Koruptor


Perguruan Tinggi Bukan Pencetak  Koruptor
            Korupsi merupakan hal yang bisa dilakukan oleh siapapun dan dimanapun tanpa pandang bulu. Baik oleh para birokrat, politikus, tokoh masyarakat, ahli pendidik, dan bisa juga dari masyarakat yang tak berpangkat. Bibit koruptor bisa dicetak dimana saja, ketika ada kesempatan, pasti peluang praktik tindak korupsi bisa terjadi. Mengenai statement tentang penyebutan perguruan tinggi sebagai pencetak koruptor itu kurang tepat. Memang pada faktanya banyak para pemimpin negara ini yang terlibat dalam kasus korupsi. Tentu kebanyakan dari mereka pernah menduduki bangku perkuliahan untuk mencapai titelnya.  Akan tetapi, pencetakan dan pembibitan koruptor sejatinya berawal dari rendahnya moral individu itu sendiri, bukanlah berasal dari instansi yang mereka tempati. Krisis morallah yang menjadikan mereka selalu berkeinginan melakukan tindak korupsi. Bisa direfleksikan bersama, perguruan tinggi di negeri ini juga telah banyak menghasilkan pemimpin negara yang tidak terlibat korupsi, mereka berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Walaupun sudah bahasan public bahwa sebuah perguruan tinggi mempunyai sistem pemerintahan layaknya sebuah negara, ada presiden beserta jajarannya serta birokrasi didalamnya. Tetapi, butuh pemikiran dan penelitian mendalam untuk menyebut perguruan tinggi sebagai pencetak koruptor.
Ria Khoiriyyah, Fakultas Tarbiyah, Mahasisiwi IAIN Walisongo Semarang.

Cerpenku. Berawal dari Mimpi


Berawal dari Mimpi
            “Mimpilah setinggi-tingginya nak, karena mimpilah yang membawamu pada kesuksesan”, kata-kata itu selalu terngiang dalam telingaku.  Tertancap kuat dalam fikiranku. Tak kan luntur walaupun terbersit rasa minder dengan keadaanku. Seketika hatiku langsung tersentak, berteriak, bahwa aku punya mimpi. Aku harus meraih mimpi. Aku harus bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita itu dihadapan bapakku.
            Aku jadi ingat kisahku dulu. Waktu itu aku lulus SMP. Aku ingin sekali mewujudkan mimpiku. Ketika itu mimpiku sangat sederhana. Aku ingin melanjutkan jenjang SMA di SMA favorit di kabupatenku. Ya, bagiku dan bapakku itu sangat berat. Bapak yang hanya bekerja mengayuh becak setiap harinya harus membiayai  SMA ku.
             Aku pasrah, ga mungkin rasanya aku bisa duduk dideretan bangku-bangku yang bersandingan dengan anak-anak bergengsi, stylis, dan tentunya tajir juga mereka. Aah, saat itu bapakku cuma bisa berdo’a, semoga saja Fitri anak semata wayangnya itu  bisa melanjutkan di SMA yang dia inginkan.
             Bapak benar-benar pasrah. Aku juga tak pernah merintih dan meronta agar aku bisa sekolah di SMA. Di saat seperti itu bapakku selalu mencoba mendekatiku dengan gaya selayaknya seorang ibu. Beliau memberi motivasi dan deretan kata-kata bijak yang menggairahkan semangat mimpiku itu lagi. Tapi semua itu kalau Allah meridhoi memang semua akan terjadi. Aku hanya punya modal belajar keras dan berdo’a.
            Sungguh ajaib.  Ternyata ada pengumuman bahwa  aku mendapat peringkat 3 besar di kabupaten saat UN SMP ku. Alkhamdulillah, sebagai hadiahnya bisa melanjutkan study di SMA terfavorit tanpa biaya sepeserpun. Subhanallah, memang ini  tak bisa aku bayangkan sebelumnya, mimpiku terwujud!!!! Saat itu aku langsung sujud syukur. Tak ada kata lain selain bersyukur dan bersyukur. Waktu yang ada dalam setiap aku meniti hari di SMA itu selalu aku usahakan harus bermanfaat.  Mulai dari ikut organisasi ekskul sampai aku harus bisa minimal sebanding dengan teman-teman yang jago dikelas.
             Sekarang masa itu telah berlalu. Seperti tiga tahun silam. Aku dikamar ini merenungkan apakah keajaiban seperti saat aku ingin masuk SMA itu ini akan terjadi lagi??? Aku benar-benar ingin memberi sesuatu yang berharga didepan hadapan bapakku. Aku ingin sekali menjadi seorang bidan. Mungkin bagi orang lain itu sangat sederhana. Tapi tidak bagiku. Itu mimpi yang sangat berharga untuk bisa aku dapatkan.                                                                              
                                                                          @@@@@
            Tak terasa lamunanku tadi malam mampu menidurkanku. Waaah, aku harus bangun. Waktu sepertiga malam ini mungkin bisa menjadi momen yang pas untuk mengadu dihadapan Allah atas semua apa yang ada dibenakku saat ini.
            Ternyata bapak melihat aku masih terbaring di kamarku, bapak berjalan menuju keberadaanku.
            “Dah bangun Fit?, ayo bangun, segeralah  tahajudan nak”, kata bapak saat mencoba membangunkanku, padahal saat itu aku sudah melek.
            “Iya pak, ini Fitri lagi mau bangun”, dengan sedikit senyum menahan kantuk aku menjawab ajakan bapakku.
             Bergegas aku menuju sumur untuk mengambil wudlu. Hmmm, sangat dingin. Air sumur pagi ini ternyata mampu membelalakkan mataku yang sedari tadi masih merem melek. Kamar mandi rumahku memang masih seperti sedia kala. Hanya ada sumur dan satu gentong sebagai tempat penampungan airnya.  Rumah tua ini peninggalan nenek dan kakekku yang sudah berdiri sejak lima puluh tahun yang lalu. Keadaannya memang masih seperti ini.
            Bapak menjadi imam sholat malam kali ini. Beliau selalu melanggengkan tahajudan, sholat khajat dan satu raka’at sholat witir.  Setelah sholat selesai dilanjutkan dengan memanjatkan do’a-do’a yang tercurahkan dari hati dan lisan  bapak.
             Aku tertegun haru mendengar bapak berdo’a hanya karena aku. Bapak sangat ingin mewujudkan mimpiku untuk  menjadi bidan itu. Bapak merintihkan do’anya dengan pasrah kepada Allah, karena beliau sadar dan tahu bahwa dirinya tak punya apa-apa.  Bapak dan aku hanya punya Allah yang selalu memberikan keagungan-keagunganNya dihadapan para hambaNya. Allahlah yang bisa segalanya dan yang Maha kaya. Dalam hatiku yang terdalam aku meng-amini semua do’a yang bapak panjatkan itu dengan penuh harap kepada Allah.
            Aku segera mengusap air mata yang baru saja mengalir di pipiku itu dengan mukena yang ku pakai. Cengeng banget si. Ini belum seberapa Fit. Masih banyak orang yang lebih patut kita tolong. Hatiku bergumam.
       “Fit, bapak ingin bicara”, sambil membalikkan badannya ke hadapanku.
       “Iya pak,” kataku lirih.
       “Nak, bapak sudah tua. Bapak juga sering sakit-sakitan. Jujur bapak hanya mampu menyekolahkanmu sampai saat ini saja. Kalau bapak bernasib punya sawah atau punya tanah, pasti semua itu sudah bapak jual demi impianmu Fit. Atau bapak seorang PNS yang punya gaji pensiunan. Tapi bapak ini orang desa yang tak bisa berbuat banyak. Bapak hanya  bisa narik becak Fit. Bapak sebenarnya pengen sekali melihat kamu memakai baju putih yang biasa dipakai bu bidan-bu bidan itu”, bapakku berkata dengan kata yang menurutku sangat jujur dari hati beliau, sampai aku tak sanggup menatap wajah rentanya.
       Aku berusaha menanggapi pernyataan beliau.
        “Hemmm, bapak itu ada-ada saja to. Fitri juga sudah bersyukur alkhamdulillah bisa lulus SMA. Fitri sudah seneng. Apalagi ada bapak yang selalu ada disamping Fitri. Bapak ga usah mikirin ini itu. Sekarang waktunya bapak istirahat. Biar Fitri ntar yang bantu-bantu bapak. ”Aku berusaha berkata tegar dihadapan bapakku, aku ga mau bapak merasakan sedih yang berlarut-larut.
       “Bapak tetep do’a buat cita-cita dan kebahagiaanmu itu Fit” kata bapakku sambil beliau pergi setelah mencium keningku. Bapak memang sangat perhatian denganku. Mungkin bapak merasa iba dengan keadaanku yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya diberi kasih sayang seorang ibu. Melihat paras cantik ibuku saja aku belum pernah. Hanya dulu bapak pernah memperlihatkan wajah ibuku dalam sebuah foto ukuran dompet. Itupun hitam putih.
       Ibuku udah ngga ada. Bapakku pernah menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya ketika aku duduk dikelas 2 SMP. Sebelumnya bapak hanya bilang kalau ibuku kerja di sebuah kota yang sangat jauh dan akan pulang ketika aku besar.
        Tetapi kejadian sebenarnya sangat berbeda. Ketika itu ibuku hamil tua, bapakku tengah narik becak di pasar. Disaat orang-orang terlelap tidur siang ibuku merasakan nyeri diperutnya, diperut ketika keberadaanku ada disitu. Ternyata waktu itu ibu akan melahirkanku, untungnya bapakku tiba-tiba pulang. Katanya dipasar sedang sepi penumpang. Bapak bergegas pulang. Ternyata ibuku sudah mengeluarkan air ketuban dan pingsan didepan rumah. Mungkin saat itu ibuku ingin meminta pertolongan tetangga sebelah. Tapi tak ada tanggapan sama sekali. Melihat kejadian itu bapakku berteriak meminta tolong. Akhirnya tetangga sebelah mendengarnya dan bergegas kearah rumahku. Bapakku kebingungan ingin dibawa kemana ibuku. Untung saja ada tetanggaku yang bersedia menumpangi ibu dan bapakku dengan mobilnya untuk dibawa ke RS terdekat.
       Setibanya disana masih banyak persoalan tetek mbengek yang intinya pembayaran ini itu agar ibuku langsung ditangani dokter. Berhubung bapakku tidak membawa uang, akhirnya persalinan ibuku itu berjalan lambat. Ibuku mengalami pendarahan yang luar biasa. Sampai pada akhirnya nyawa ibuku tak tertolongkan. Memang sudah takdirnya aku hidup tanpa kasih sayang seorang ibu. Tapi aku selalu sayang kepada ibu dan bapakku. Berawal dari kisah ibuku itu, aku ingin sekali menjadi bidan desa yang siap membantu persalinan ibu-ibu hamil agar nasib seperti ibuku tidak terjadi lagi. Walaupun itu semua kehendak Allah. Tapi setidaknya aku ingin bisa meringankan keluhan mereka dengan profesiku itu.
                                                           @@@@@
       Pagi ini aku memasak makanan kesukaan bapak. Hmmm, harum. Tempe goreng ditemani sambel terasi.  Rutinitas memasak sangat aku sukai. Ini aku pelajari dari tangan bapakku sendiri hlo. Aku bangga punya bapak seperti itu.
       Aku ntar mau cari kerjaan ah. Kan lumayan bisa bantu perekonomian keluarga ini. Masak aku harus membiarkan bapakku sendirian. Tapi kerja apa ya? Di pabrik sepertinya lumayan. Ntar siang aku cari info ah.
       “Kenapa kamu senyum sendiri Fit?,”     
       Suara bapak benar-benar mengagetkanku.
       “Hehe, ga papa pak. Ini sarapannya udah Fitri siapin. Enak hlo pak”
       “Hmmm, sepertinya anak bapak sudah pinter masak ini. Siapa yang ngajarin nak?”
       “Siapa dulu dong, bapakku...”
       Kami berdua bersendau gurah di meja makan. Aku dan bapak sudah layaknya sepasang sahabat yang sangat akrab.
       “Mau kemana kamu Fit?” tiba-tiba bapakku melihat gelagatku yang tengah rapi dengan seragam SMA ku.
       “Mau ke sekolah pak, pengen ketemu teman-teman sekelas dulu, mereka kenginginkan hari ini ketemu kangen, nanti jam 11 juga ada cap tiga jari ijazah sekolah pak,” jawabku menjelaskan.
       “Ayo mau bapak anter? Sekalian bapak narik” bapak mencoba menawarkan.
       “Hlo ini masih pagi pak, biasanya bapak narik agak siang to?”
       “Sekalian bapak berangkat ndak papa Fit, daripada kamu naik sepeda kan jauh”
       “Halah pak, wong Fitri kemana-mana juga naik sepeda, bapak ini ada-ada saja, tapi kalau bapak benar mau nganter Fitri, Fitri malah seneng pak”, aku tersenyum dihadapan bapakku.
        Aku senang bisa bertemu teman-teman yang selama 1 tahun bersama di kelas XII IPA 1. Mereka temanku yang tak membeda-bedakan satu sama lain. Walaupun bawaan mereka mobil dengan berbagai macam merk terkenal, tapi tak ada sedikitpun deskriminasi terhadap posisiku. Sejenak aku melepas tawa bersama mereka. Bersendau gurau membicarakan hal-hal lucu yang pernah kami ukir ketika masa SMA berlangsung.
       “Eh Fit, ke BK yuk.”
       Tiba-tiba Dita mengagetkanku.
       “Ngapain Dit?”
       “Aku disuruh bokap nih, cari info kuliah gitu deh. Ayo dong. Mau ya..”
       Ga pikir lama aku langsung mengamini permintaan Dita.
       “Oke Dit,”
       “Lu mau nglanjutin kemana Fit?”
       “Halaaah. Kamu itu ada-ada aja. Aku lagi pengen cari kerja ni. Kamu punya info pabrik-pabrik gitu ga?”
       “Haaah. Apa? Pabrik? Ga taulah. Emang gue satpam pabrikan apa?”
       “Yeee,,, aku kan nanya. Serius ni. Gue pengen kerja Dit.”
       “Serius lu? Lu tu pinter Fitri imuuut. Ga usah nyerah gitu dong. Masih banyak jalan menuju Roma. Hahahaaa”
       “Ternyata gue salah nanya orang kalo gini ceritanya.”
       Sepanjang jalan menuju ruang BK kami bergurau melepas kangen. Dan sampai di papan pengumuman depan BK aku dikejutkan sebuah info.
           Ayo!!!! Come join us....
           IKUTI TES PENDAFTARAN MASUK AKADEMI KEBIDANAN  (AKBID) DAERAH
          Waaaaaaw,,,,,,,,,, Ada beasiswa gratis bagi 10 orang pendaftar yang mendapat nilai tertinggi tes akbid!!!!!
       “Dit, info bagus ni. Gue jadi ngiler.”
       “Ya udah ikut aja Fit. Siapa tau lu dapet beasiswa kan?”
       “Ngaco lu Dit. Ga mungkin lah gue bisa kesitu. Pasti otaknya tok cer yang bisa ditrima.”
       “Gaya lu Fit. Mentang-mentang lu pinter ngomong kaya gitu. Eh coba aja tau. Ini akademi ngetop tau. Siapa tau lu kecantol cowok tajir disitu. Lumayan kan. Heheee”
       “Hmm, dasar Dita. Yaudah ntar gue pikir-pikir dulu ah.”
       “Jiaah. Blagu banget si lu. Eh Fit, gue baru inget, itu akademi yang bokap gue cari!!”
       “Bener lu Dit? Asyiik. Besok kita kesana bareng ya Dit.”
       “Siiip deh. Besok lu gue samper deh.”
@@@@@
       Malam ini aku harus belajar giat. Sementara berkas-berkas lamaran kerjaku aku abaikan. Besok aku akan berjuang.
       Berbagai soal SAINS aku cari. Aku buka lembar-lembar soal itu dan aku usahakan harus bisa terselesaikan. Matematika, waduuuh, aku harus konsentrasi lagi ini. Kimia, Biologi, Fisika. Bismillah. Moga aja besok aku bisa melewati soal-soal itu.
       “Belum tidur Fit?”
       “Belum pak, lagi cari kesibukan buat soal-soal dulu pak.”
       “Hlo buat apa”?
       “Daripada Fitri nglamun ga jelas pak, mending corat-coret soal ini.”
       Aku berusaha memendam rencanaku besok. Kan malu kalo aku ga diterima tapi udah pamer info ke bapak. Bapak sudah terlelap. Kasian aku menatap wajah beliau. Sudah lama beliau menduda. Tapi beliau tetap setia sama almarhumah ibundaku. Terserah bapaklah. Yang penting beliau bahagia dengan keadaan seperti ini.
       Waah, jam 01.00 pagi. Aku terlalu asyik dengan soal-soal ini. Aku harus segera mengakhiri. Kalau aku paksain ga tidur besok malah payah. Alarm jam 03.30. Siiip. Semoga saja alarm ini bisa membantu membangunkanku. Jadi deg-degan keinget tes besok. Bismillah. Semoga Engkau meridhoiku ya Allah.
@@@@@
       Selamat datang di Akademi Kebidanan. Disini saya akan membacakan beberapa tata terbit mengenai test masuk Akbid tahun 2012. Bla bla bla seorang panitia membacakan deretan tata tertib jalannya test. Tadi aku sempat kaget. Ternyata didepan ada biaya administrasi pendaftaran. Walaupun cuma 25 ribu si. Tapi itu memang benar-benar membuatku komat-kamit. Gara-gara aku Cuma bawa uang 5 ribu perak. Setelah aku mondar-mandir dari ruang ke ruang untungnya aku nemuin Dita. Aku pinjem uang dari dia deh.
       Waduuuh. Soalnya banyak banget. 400 butir soal dalam waktu 45 menit. Buseeet dah. Bismillah. Berilah hambaMu kemudahan ya Rabb. Aduuh. Ko’ ada soal Bahasa Indonesia juga ya? Gimane ni? Lewatin dulu aja deh. Mana ni Kimia. Asyiiik, soal Kimia lumayan bisa dicerna. Moga aja jawabanku tepat.
       15 menit lagi. Ya Allah, beri hambaMu kemudahan, ridhoilah apa yan aku kerjakan sekarang ini Ya Rabb. Aku harus bisa!.
       “Kepada semua peserta test masuk akbid tahun 2011 untuk segera meninggalkan meja masing-masing. Dan diumumkan juga agar peserta tidak meninggalkan area akbid, karena selama 1 jam penilaian akan dilaksanakan. Bagi peserta yang masuk dalam 10 besar diharap langsung menyiapkan diri untuk melakukan test fisik di laboratorium. Sekian terimakasih.”
       Aku segera keluar dari ruangan. Alkhamdulillah aku merasa plong. Wallahua’lam deh jawabanku tadi.
       “Gimana Fit? Sukses?” Tiba-tiba Dita menepuk punggungku.
       “Lumayan pusing si Dit. Kamu gimana?
       “Hahaaa... emang lu aje yang pusing. Ayo gue traktir Fit. Biar ga pusing cari yang seger-seger”
       “Asyiiik. Yuk Dit”
       Satu jam berlalu. Aku dan Dita segera menuju aula akbid. Kami sudah ga sabar melihat pengumuman itu. Kakiku terasa berat melangkah menuju aula. Terlihat kerumunan siswa yang menggerombol menyaksikan pengumuman itu. Aku semakin gemetar.
       “Dit, tolong liatin nomor 2122 dong, kamu kan tinggi” pintaku kepada Dita. Tidak ada respon dari Dita. Mungkin dia juga kebingungan nyari nomor pesertanya. Tiba-tiba banyak teriakan bermunculan dari sampingku. Mereka diterima. Itu tandanya mereka bebas biaya jadi mahasiswa akbid. Hmm, beruntung sekali mereka. Banyak juga yang terlihat murung. Buktinya mereka ga dapet beasiswa itu. Aku golongan beruntung atau tidak ini? Aku belum juga menyaksikan pengumuman itu. Aku ingin liat nanti aja kalo udah longgar tempatnya ah. Gumamku dalam hati.
       “Fitri...Lu ketrima tau. Gila banget si lu.”
       “Ah ngaco lu Dit, aku mau nonton ntar aja ah,”
       “Fitri,,, gue serius. Lu temasuk 10 besar, sekarang cepet le laboratorium buat tes fisik. Waktu tinggal menit lagi.”
       Tanpa berfikir panjang aku langsung lari menuju lab. Alkhamdulillah ternyata aku benar-benar diterima dan dapat beasiswa sampai lulus dari akbid. Terimakasih ya Rabb. Engkau yang memberi keridhoanMu. Karena hanya Engkaulah Tuhan seluruh umat ini. Disepanjang perjalanan pulang menuju rumah aku tak henti-hentinya mengucap syukur. Terima kasih ya Allah. Aku sudah ga sabar memberi kabar indah ini ke bapakku. Semua berawal dari mimpi!!!
@@@@@