Rabu, 12 September 2012

Penanganan Maksimal


Penanganan Maksimal
on Suara Kampus, Republika, 12 September 2012
Kasus yang sampai saat ini kalang kabut ditengah masyarakat adalah insiden radikal yang dilakukan oleh kelompok terror. Walaupun kejadian yang meresahkan warga itu masih tumbuh berkembang di Indonesia, tetapi menurut saya  penangan aksi terorisme di Indonesia sudah cukup maksimal. Ini dibuktikan dengan beraksi aktifnya anggota kepolisian, densus 88 serta pihak TNI. Mereka sudah berusaha keras memberantas terorisme yang juga dibantu oleh pihak pemerintah Indonesia sendiri. Bukti penanganan teroris yang dilakukan pemerintah juga telah kita rasakan dengan diadakannya e-ktp. Pemerintah mencanangkan program e-ktp salah satu tujuannya agar meminimalisir anggota teroris.
Ria Khoiriyyah, Mahasiswi PAI Fakultas Tarbiyah, IAIN WALISONGO SEMARANG.

Minggu, 17 Juni 2012

Menari di Jam Kosong

 Menari Di Jam Kosong
Detik ini aku mulai menari. Ditempat sedikit ramai. Ditempat ber AC hingga aku sempat terbatuk menahan dingin. Anak kampung yang tak terbiasa hidup mewah memang. Di sebelah orang-orang asing. Disebelah orang-orang berpengalaman dan berpendidikan. Aku merantau dari seberang demi menggaet ilmu. Orang tua tak memaksaku membantu mereka bekerja. Hanya untuk belajar untuk saat ini. Waktuku belum semuanya terpakai. Banyak kesempatan yang terbuang sia-sia. Aku menghela nafas. Senaifkah jika mipiku menjadi seorang penulis terwujud. Disini, detik ini, di perpustakaan jariku menari menghabiskan jam kosong. Menari diatas kertas kusam yang terbuang.

Jumat, 01 Juni 2012


Grasi Terkesan Bertekuk Lutut
            Grasi terhadap Corby si ratu ganja bagi saya sangat tidak lazim. Selama ini belum pernah terdengar ada grasi sampai 5 tahun bagi warga tahanan sendiri. Padahal hukuman bagi terpidana narkoba sekaliber Corby layak jika harus menetap di sel tahanan selama 20 tahun. Toh kategori tindak kejahatan yang dilakukan memang kelas kakap dilihat dari daya rusak perbuatannya. Ini terkesan bahwa Indonesia yang sejatinya merupakan Negara berkembang seolah-olah bertekuk lutut pada tekanan pihak asing dalam relasi dengan Negara besar.
            Walaupun dilihat dari sisi diplomasi, grasi Corby sah-sah saja apalagi jika dikaitkan dengan hak prerogative presiden yang dijamin oleh konstitusi. Tetapi timing grasi Corby kurang tepat jika hanya berkiblat pada kebijakan diplomasi tersebut. Ini akan menimbulkan polemik besar dari publik. Jelas saja, disaat Indonesia menggembor-gemborkan anti narkoba bahkan perang melawan narkoba malah grasi sebesar itu ditujukan untuk ratu ganja. Pemerintah juga harus mendengarkan suara warganya. Tidak dengan grasi seperti itu jika memang ada niat dibalik kebijakan tersebut agar tahanan WNI mendapat perlakuan sama di penjara Negara asing. Kecemburuan sosial pada publik akan terjadi jika grasi diberikan pada Corby.
            Ria Khoiriyyah, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN WALISONGO SEMARANG_
           

Senin, 21 Mei 2012


Sabtu, 19 Mei 2012.
Sempet deg-degan, minderrr, ga PeDe... Huhhhh, galau deh pokoknya... Tanggal 19-20 Mei kemarin Q ma Ana Riezky Saputry (Aenoys) nggembel gitu deh. Izin pulang dari asrama, tapi nyatanya join acara writing super camp II di Mijen. hhhaa. ga papa lah, boong dikit ma pak kyai, tapi kan qita ga kaburrr. Waktu itu q sempet bimbang, ngikut ga ya? Atas berkat Allah yang Maha Kuasa akhirnya Q mutusin untuk ngikut. Ya galaulah, Q tu ga da bakat nulis sama sekali, cuma pengen aja jadi penulis hebat kaya penulis penulis handal negeri ini. Hari Sabtu Q ma Anoyz smsn tu ma mb. mu'awanah, ketua FLP cabang ngaliyan. qt sempet bingung kan, ke mijennya naik apa? motor masih di dealer. akhirnya ma sopir lah. Orang kayaaa. >.<. sopir bus maksudnya. ternyata kata mb. ketuanya emang suruh ngebis aja. Lamaaaa bangt nunggu ikhwan ma akhwat lain. setelah berrrrrrr menit-menit nunggu akhirnya kami berangkat. Hmmmm,,, masih deg-degan juga si. Kayanya berat bangt mau ngangkat kaki menuju lokasi. Lagi-lagi karena Q ga bakat itu. Hmmmm, nyampe Mijen, tempatnya asyik gitu deh, di desa yang masihhhhh desaaaa bangt, asri, hmmm, segerrr tempatnya juga banyak saung-saungnya gitu deh. Tepatnya di SDIT Cahaya Bangsa, Mijen, Semarang. Berasa keinget masa kecil dulu. Eh, setelah pengumpulan karya dan registrasi serta bla bla bla.... unik juga ni acara. Pokoknya cowo ma cewe bener-bener di pisah banget. Jadi ga bisa lirik kanan kiri... (muslimah yang baik harus gitu dong :D). Mulai tempat parkir, lokasi, tempat istirahat n tempat singgah tu dipisah antara ikhwan dan akhwat. Kalo toilet ya emang dipisah dari dulu ;P. Lanjut.... Acara dimulai dengan imashol. Abis itu materi materi yang bejibun banget. Ada paradigma keFLPan, ada pengertian FLP, cara nulis, nerbitin, hingga ngebukuin tulisan. Banyak banget deh ilmu yang dapet Q ambil. Berawal dari kedinginan suasana, berubah 180 derajat jadi akrab, jadi kenal ma akhwat-akhwat lain.  
Malam minggu, 20 Mei 2012
Acara dilanjut masih dengan materi. Tapi sebelumnya Q sempet dibuat senam jantung ma panitia. Bayangin aja, qt disuruh buat cerpen 8 sampe 12 halaman dalam waktu cuma semalem. Semalem si kecil, tapiii kalo malam hari tu bener-bener ga ada kegiatan. Yang bener aja, acara malam aja selesai sampai jam setengah 11 malem. Aduuuh, udahbprotes besar-besaran ni mata pengen merem. akhirnya dengan sedikit berat hati semua peserta bener-bener begadang nglembur semalaman ngrampungin tu cerpen. Temanya lumayan nggregeti. Tentang Kearifan Lokal Sem,arangan.

Sabtu, 12 Mei 2012

Tak Perlu Dikecilkan, Tetap Kumandangkan Adzan


Tak Perlu Dikecilkan
Adzan adalah sebuah panggilan yang urgen, pengingat, serta penanda bagi masuknya waktu sholat bagi kaum muslim di seluruh penjuru dunia. Tidak seorang ulama’ atau tokoh agama manapun yang memandang bid’ah adzan dengan pengeras suara. Ini sangat tidak lazim jika ada orang yang merasa terganggu dengan suara adzan. Toh suara adzan dikumandangkan hanya pada waktu masuknya sholat saja.
            Atas dasar apa jika volume speaker suara adzan perlu dikecilkan, dengan sebagian besar penduduk Indonesia sendiri beragama Islam? Ataukah ini mengganggu umat beragama nonis? Nonis pun mereka juga tenang-tenang saja, jika mereka mempunyai sikap tenggang rasa terhadap ritual agama lain. Realitanya, riuh musik sering kita dengar di sekitar kita tanpa ada complain. Ini statement yang sangat memalukan.
Penggunaan pengeras suara di masjid dan mushala sudah diatur dan dikeluarkan oleh Dirjen Bimas Islam Depag pada tahun 1978. Isi peraturan tersebut antara lain aturan mengenai peletakan corong speakerSpeaker yang ditujukan keluar masjid hanya berfungsi untuk mengumandangkan adzan, sedangkan speaker untuk bacaan shalat, serta do’a tidak perlu ditujukan keluar masjid, sehingga tidak melanggar ketentuan syara’ yang melarang sholat dengan bacaan jahr (keras) pada waktu-waktu tertentu.
Jelas bahwa tidak ada larangan mengecilkan volume suara adzan dilihat dari perspektif syara’ (dengan bukti Bilal Bin Rabbah adalah orang pertama yang ditunjuk Rasulullah untuk mengumandangkan adzan sebagai penanda datangnya waktu shalat)  ataupun undang-undang yang berlaku di Indonesia ini. Hanya perlu kajian mendalami syari’at Islam dan tinjauan ulang serta lebih bertenggang rasa jika ada orang yang terganggu dengan volume suara adzan yang biasanya lantang.
Ria Khoiriyyah, Mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Institut Agama Islam Walisongo Semarang

Mencekik Rakyat
On Republika, april 2012
Simpang siurnya rancangan tentang pembelian pesawat Sukhoi hanya dijadikan penyetaraan status.Indonesia tak mau dipandang sebelah mata oleh Negara tetangga yang Alutsistanya lebih modern dan canggih. Malaysia, Singapura serta Negara tetangga tidak bisa dijadikan patokan Indonesia. Negara-negara tersebut memang pantas memiliki Alutsista canggih. Ini juga harus dilihat keberadaan rakyat yang sudah mencapai status sejahtera. Berbeda jauh dengan Indonesia.  Ditengah krisis kesejahteraan rakyat seperti ini tidak sepantasnya membicarakan harga diri. Indonesia yang notabene masih berstatus Negara berkembang harus lebih mementingkan rakyat terlebih dahulu. Kisaran harga milyaran juga terdengar diimbangi dengan penggelembungan harga hingga mencapai triliunan rupiah. Ini sangat disayangkan. Tidak sepantasnya pemerintah tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Itu akan tambah mencekik rakyat. Rakyat menolak rancangan pembelian pesawat ini karena telah banyak terjadi pembohongan karakter pemerintah. Akhirnya juga akan terselip korupsi. Masalah pembelian pesawat seharusnya Indonesia membeli pesawat dalam negeri saja. Toh sistem kerjanya juga tidak jauh dari Sukhoi asal Rusia itu.
Ria Khoiriyyah
IAIN WALISONGO SEMARANG

Krisis Kejujuran, Pendidikan Anti Korupsi


Krisis Kejujuran, Pendidikan Anti Korupsi
Ide cemerlang bagi kita dengan adanya gagasan dari Kemendignas dan KPK mengenai akan diadakannya Pendidikan Anti Korupsi Juli mendatang. Ide itu muncul ditengah menjamurnya praktik tindak korupsi dalam institusi Negara yang melibatkan elite dan petinggi partai politik serta pejabat saat ini yang sangat merugikan Negara. Tentunya mereka adalah orang-orang terdidik di negara kita. diarenakan hanya sisi keintelektualan saja yang mereka miliki, akhirnya hal-hal burukpun mereka lakukan. Sangat ironis jika pendidikan hanya memandang aspek intelektual saja tanpa menghiraukan aspek moral. Krisis kejujuran semakin marak.
Mulai banyaknya persoalan krusial pendidikan seperti UN, kapitalisasi dan komersalisasi pendidikan yang selalu dihiasi dengan tindak kecurangan, gagasan Pendidikan Anti Korupsi memang tepat jika benar-benar diterapkan. Kecurangan-kecurangan itu adalah pemicu praktik korupsi. Menengok sedikit mengenai sifat yang ada pada diri Nabi Muhammad. Awal kali yang disebutkan adalah sifat jujur (shiddiq). Bukan diawali dengan sifat cerdas (fathonah). Karena apabila jujur tidak ada pada diri seorang professor ataupun cendekiawan sekalipun, semua hal akan dilakukan dengan segala cara. Dalam menghindari hal ini sekolah harus menjadi tempat pelaksanaan pendidikan karakter untuk menyemaikan nilai-nilai kejujuran.
            Dunia pembelajaran selama ini hanya mengunggulkan aspek kognitif. Aspek afektif sangat termarginalkan. Mengenai pembentukan kepribadian memang harus menggunakan teladan nyata. Pendidik harus menorehkan sikap yang benar-benar menjadi teladan bagi karakter anak didiknya. Dimulai mengajarkan kedisiplin dan kejujuran kepada anak didik saat ulangan misalnya. Praktik keseharian pendidik juga harus sejalan dengan tujuan Pendidikan Anti Korupsi, bukan hanya peserta didik saja yang mengaplikasikan hal tersebut. Tetapi dengan keseimbangan tersebut, masyarakat lain diharapkan mendapat manfaat dari Pendidikan Anti Korupsi.
            Ketidakjujuran dan kebodohan memang faktor penunjang tindak korupsi terjadi. Jika penyakit itu menyerang, sesorang akan suka berlaku secara instan, seperti korupsi. Dengan adanya hal tersebut, kurikulum yang diharapkan bagi Pendidikan Anti Korupsi mendatang mampu terealisasikan sehingga membuahkan hasil nyata demi meminimalisir tindak korupsi.
RIA KHOIRIYYAH, MAHASISWI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM, FAKULTAS TARBIYAH, IAIN WALISONGO SEMARANG.