Rabu, 02 Mei 2012

Asal Usul Kata Tasawuf


BAB 1
SUMBER TASAWUF DALAM ISLAM

A.    PENDAPAT ORIENTALIS TENTAG SUMBER TASAWUF

Sejak permulaan abad kesembilan belas sampai masa akhir-akhir ini, telah bercorak ragam pendapat para orientalis yang menaruh perhatian terhadap tasawuf, tentang asal usul dan sumber tasawuf. Generasi pertama para orientalis cenderung merujukkan tasawuf pada satu sumber. Sementara generasi terakhirnya cenderung menolak gagasan sumber yang hanya satu. Hal ini diungkapkan oleh R.A. Nicholson dalalm karyanya, The Mystics of Islam:
“ Kajian modern membuktikan bahwa asal usul para sufi tidak bisa dirujukkan terbatast pada satu sebab”.
Berikut adalah pendapat orientalis tentang sumber tasawuf:
1.      Tasawuf berasal dari Persia
Diantara para orientalis ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal dari Persia. Thoulk (orientalis abad kesembilanbelas) menganggap bahwa tasawuf ditimba dari sumber Majusi. Dengan alasan bahwa sejumlah besar orang-orang Majusi di Irian Utara, setelah penaklukan Islam tetap memeluk agama mereka, dan banyaknya tokoh sufi berasal dari sebelah utara Khurasan. Yang beranggapan tasawuf berasal dari Persia adalah Dozy
1.      Tasawuf berasal dari sumber Kristen
Argumentasinya antara lain:
a)      Adanya suatu interaksi antara orang-orang Arab dan kaum Nasrani pada jaman jahiliyyah maupun Islam.
b)      Adanya kesamaan antara kehidiupan asketis ataupun sufi dalama ajajran ketika melatih jiwa (riadhah) dan mengasingkan diri (khalwat), kehidupan Al Masih dan cara berpakaian.
Yang beranggapan seperti ini diantaranya: Von Kramer, Ignaz Gooldziher, R.A. Nicholson, Asin Palacios, dll.
c)      Beberapa oroientalis seperti M. Horten dan R. Hartman
Mereka berpendapat bahwa tasawuf berasal dari India. Mereka cenderung merujuk sebagian teori, bentuk latihan rohani dan praktek serupa mistisme orang-orang India.
d)     Tasawuf berasal dari Yunani
Para orientalis ini lebih menaruh perhatian teradap tasawuf bersumber dari Yunani, yaitu jenis tasawuf teosofis, suatu tasawuf yang muncul pada abad ketiga hijriyah, lewat Dzun Nun al Mishri, yang meninggal pada 245 H.
Para sufi tidak hanya menukil orang-orang Persia, Kristen, Yunani, atau lainnya. Pada dasarnya tasawuf berkaitan dengan perasaan dan kesadaran. Apapun yang berkaitan dengan dengan jiwa manusia, lewat latihan rohani bisa saj sama walaupun tidak terjadi kontak diantara keduanya. Gagasan tasawuf berasal dari kaum Muslimin itu sendiri.
Diantara orientalis yang meninjau masalah sumber tasawuf secara ilmiah dan jujur adalah Prof. Louis Massignon, seorang orientalis Prancis, yang mendedikasikan upaya ilmiahnya untuk mengkaji tasawuf. Untuk membuktikan teorinya tentang tasawuf, dia menyusun dengan teliti metode tentang leksikon teknik tasawuf yang dirujuk pada sumber tasawuf pertama, se bagaimana dalam bukunya Essay sur les origins du lexique technique muuslmane. Dalam kajiannya ditarik kesimpulan bahwa sumber tasawuf ada 4, yaitu:
1.      Al-Qur’an sebagai sumber terpenting
2.      Ilmu-ilmu Islalm, seperti hadits, fiqih, nahwu, dll
3.      Terminology-terminologi para ahli kalam angkatan pertama
4.      Bahasa, seperti bahasa Yunani dan Persia.

B. SUMBER ISLAM DALAM TASAWUF
           
            Pada awal pembentukannya, disiplin dari tasawuf adalah moral keagamaan. Jelas sumber pertamanya adalah ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al-Qur’an, assunah, dan ucapan para sahabat (ucapan itu tentunya tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan assunah).
Al Thusi denngan kitabnya al-luma’ mengemukakan bagaimana para sufi secara khusus lebih menaruh perhatian terhadap moral luhur serta sifat dan amalan utama para nabi, sahabat dan orang-orang setelah beliau.
Tasawuf memiliki suatu aliran, yaitu thariqah (konsepsi jalan menuju Allah), ma’rifat (mengenal Allah). Sedangkan yang disebut tingkatan (maqam) menurut para sufi adalah tingkatan seorang hamba Allah dihadapanNya. Fasenya antara lain: taubat, asketis, menyucikan diri (wara’), hidup sederhana (faqr), sabar, rela, tawakkal, dsb. Sementara keadaan (hal) adalahbeningnya jiwa tetrhadap Allah. Seperti: keterpusatan diri (muraqabah), pendekatan (qarb), cinta, takut, harap, dsb. Menurut ahli tasawuf, tingkataan merupakan suatu kemapanan, tetap. Sedangkan keaadaan bisa diperoleh tanpa kesengajaan, mudah hilang.

1.      Sumber Tasawuf dari Al-Qur’an
Tingkatan dan keadaan tasawuf berasal dari Al-Quran. Berikut landasan tingkatan dan keadaan sufi dari Al-Qur’an:
§  Penggemblengan jiwa: “dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggal(Nya)”
§  Tingkatan asketis        :  “katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sementara, dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa”
§  Tingkatan tawakkal  : “dan barang siapa tawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)Nya”
§  Tinglatan syukur: :”sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu”
§  Tingkatan sabar: “dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”
§  Tingkatan rela: “Allah rela terhadap mereka dan merekapun rela terhadap-Nya”
§  Tingkatan malu: “tidaklah mereka mengetahui, bahwa Allah benar-benar melihat segala perbuatan?”

              Akan terlalu banyak jika disebutkan dalil tentang tingkatan dan keadaan sufi. Dapat dibaca dalam al risalah al qusyairiyah : karya al Qusyairi, al luma’: karya al Thusi, ihya’ ulumuddin : karya al Ghazali.



2.      Kehidupan, Moral, dan Sabda Rasulullah SAW
            Seperti halnya Al-Qur’an sabagai salah satu sumber tasawuf, begitu pula kehidupan, moral, dan sabda Rasul juga sebagai sumber tasawuf. Kehidupan Rasulullah dapat kita bagi dalam dua fase. Fase kehidupan sebelum diangkat menjadi Rasul dan sesudahnya. Dalam setiap fase ini, para sufi mendapatkan adanya suatu sumber yang kaya dengan berbagai ilmu serta amal. Dalam hal akhlaq, beliau adalah seorang yang berakhlak sempurna difirmankan Allah: “dan sesungguhnya, kamu benar-benar berbudi pekerti luhur”. Dan suatu ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak beliau, jawabnya: ”Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Allah ridha bersama keridhaan beliau, dan (Dia) niscaya marah bersama kemarahan beliau”.

2.      Kehidupan dan Ucapan Para Sahabat
            Kehidupan dan ucapan sahabat adalah sumber tempat menimba para sufi. Kehidupan dan ucapan mereka penuh hal-hal yang berkaitan dengan asketisisme, kehidupan sederhana, dan penerimaan terhadap Allah. Karena itu tidak seorangpun peneliti yang jujur dalam mengkaji sejarah tasawuf, yang dapat melalaikan kecenderungan-kecenderungan rohaniah yang tercermin dalam kehidupan ucapan para sahabat, yang meneliti sumber landasan-landasan kehidupan rohaniah para sufi.
            Seperti contoh: Abu Bakar adalah seorang asketis, sehingga dalam diriwayatkan bahwa selama enam hari dalam seminggu dia selalu dalam keadaan lapar, baju yang dimilikinya tidak lebih dari satu.
            Umar bin Khattab pun terkenal dengan kebeningan jiwa dan kebersihan kalbunya. Dia terkenal dengan kesederhanaannya. Diriwayatkan pada suatu hari ketika ia berpidato dalam kekhalifahannya, beliau berpidato dengan memakai baju bertambalkan dua belas sobekan.
            Utsman juga menjadi suri tauladan para sufi dalam banyak hal. Dalam hal penggemblengan terhadap dirinya sendiri diriwayatkan bahwa dia mambawa sendiri beberapa ikat kayu dari kebunnya, kemudia ia juga dermawan, tekun beribadah serta gemar membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Sampai belaiu terbunuh saat mambaca Al-Qur’an.
            Sementara Ali bin Abi Thalib dalam pandangan sufi memiliki kedudukan tinggi. Dalam hal ini, ‘Ali al-Rudzbari seorang tokoh sufi angkatan pertama berkata “dia dianugerahi ilmu ladunni (ilmu dari sisi Allah) dan ladunni adalah ilmu yang secara khusus dianugerahka kepada nabi Khidr, sebagaimana firman Allah: “dan yang telah Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami”. Menurut Ibnu ‘Uyainah, Ali bin Abi Thalib adalah sahabat Nabi paling zuhud. Imam Syafi’I pun memandangnya sebagai asketis besar.

             Benih-benih kehidupan rohaniah juga dimiliki sahabat lain ang bukan khalifah, mereka biasa disebut ahlussuffah. Sehingga sebagian penulis berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari sebutan mereka. Ahlussuffah adalah kaum miskin dari Muhajirin dan Anshar yang mendirikan sebuah ruangan di Masjid Nabi (suffah berarti ujung masjid). Disiyu mereka memusatkan perhatian dirinya kepada Allah dengan beribadah, melatih jiwa, dan menghindari duniawi.


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar