BAB
1
SUMBER
TASAWUF DALAM ISLAM
A.
PENDAPAT ORIENTALIS TENTAG SUMBER TASAWUF
Sejak permulaan abad kesembilan belas sampai masa akhir-akhir ini,
telah bercorak ragam pendapat para orientalis yang menaruh perhatian terhadap
tasawuf, tentang asal usul dan sumber tasawuf. Generasi pertama para orientalis
cenderung merujukkan tasawuf pada satu sumber. Sementara generasi terakhirnya
cenderung menolak gagasan sumber yang hanya satu. Hal ini diungkapkan oleh R.A.
Nicholson dalalm karyanya, The Mystics of Islam:
“ Kajian modern membuktikan bahwa asal usul para sufi tidak bisa
dirujukkan terbatast pada satu sebab”.
Berikut adalah pendapat orientalis tentang sumber tasawuf:
1.
Tasawuf
berasal dari Persia
Diantara para orientalis ada yang berpendapat bahwa tasawuf berasal
dari Persia. Thoulk (orientalis abad kesembilanbelas) menganggap bahwa tasawuf
ditimba dari sumber Majusi. Dengan alasan bahwa sejumlah besar orang-orang
Majusi di Irian Utara, setelah penaklukan Islam tetap memeluk agama mereka, dan
banyaknya tokoh sufi berasal dari sebelah utara Khurasan. Yang beranggapan
tasawuf berasal dari Persia adalah Dozy
1.
Tasawuf
berasal dari sumber Kristen
Argumentasinya antara lain:
a)
Adanya
suatu interaksi antara orang-orang Arab dan kaum Nasrani pada jaman jahiliyyah
maupun Islam.
b)
Adanya
kesamaan antara kehidiupan asketis ataupun sufi dalama ajajran ketika melatih
jiwa (riadhah) dan mengasingkan diri (khalwat), kehidupan Al Masih dan cara
berpakaian.
Yang
beranggapan seperti ini diantaranya: Von Kramer, Ignaz Gooldziher, R.A.
Nicholson, Asin Palacios, dll.
c)
Beberapa
oroientalis seperti M. Horten dan R. Hartman
Mereka
berpendapat bahwa tasawuf berasal dari India. Mereka cenderung merujuk sebagian
teori, bentuk latihan rohani dan praktek serupa mistisme orang-orang India.
d)
Tasawuf
berasal dari Yunani
Para
orientalis ini lebih menaruh perhatian teradap tasawuf bersumber dari Yunani,
yaitu jenis tasawuf teosofis, suatu tasawuf yang muncul pada abad ketiga
hijriyah, lewat Dzun Nun al Mishri, yang meninggal pada 245 H.
Para sufi tidak hanya menukil orang-orang Persia, Kristen, Yunani,
atau lainnya. Pada dasarnya tasawuf berkaitan dengan perasaan dan kesadaran.
Apapun yang berkaitan dengan dengan jiwa manusia, lewat latihan rohani bisa saj
sama walaupun tidak terjadi kontak diantara keduanya. Gagasan tasawuf berasal
dari kaum Muslimin itu sendiri.
Diantara orientalis yang meninjau masalah sumber tasawuf secara
ilmiah dan jujur adalah Prof. Louis Massignon, seorang orientalis Prancis, yang
mendedikasikan upaya ilmiahnya untuk mengkaji tasawuf. Untuk membuktikan
teorinya tentang tasawuf, dia menyusun dengan teliti metode tentang leksikon
teknik tasawuf yang dirujuk pada sumber tasawuf pertama, se bagaimana dalam
bukunya Essay sur les origins du lexique technique muuslmane. Dalam
kajiannya ditarik kesimpulan bahwa sumber tasawuf ada 4, yaitu:
1.
Al-Qur’an
sebagai sumber terpenting
2.
Ilmu-ilmu
Islalm, seperti hadits, fiqih, nahwu, dll
3.
Terminology-terminologi
para ahli kalam angkatan pertama
4.
Bahasa,
seperti bahasa Yunani dan Persia.
B. SUMBER ISLAM DALAM TASAWUF
Pada awal pembentukannya, disiplin
dari tasawuf adalah moral keagamaan. Jelas sumber pertamanya adalah
ajaran-ajaran Islam, sebab tasawuf ditimba dari Al-Qur’an, assunah, dan ucapan
para sahabat (ucapan itu tentunya tidak keluar dari ajaran Al-Qur’an dan
assunah).
Al
Thusi denngan kitabnya al-luma’ mengemukakan bagaimana para sufi secara
khusus lebih menaruh perhatian terhadap moral luhur serta sifat dan amalan
utama para nabi, sahabat dan orang-orang setelah beliau.
Tasawuf
memiliki suatu aliran, yaitu thariqah (konsepsi jalan menuju Allah), ma’rifat
(mengenal Allah). Sedangkan yang disebut tingkatan (maqam) menurut
para sufi adalah tingkatan seorang hamba Allah dihadapanNya. Fasenya antara
lain: taubat, asketis, menyucikan diri (wara’), hidup sederhana (faqr),
sabar, rela, tawakkal, dsb. Sementara keadaan (hal) adalahbeningnya jiwa
tetrhadap Allah. Seperti: keterpusatan diri (muraqabah), pendekatan (qarb),
cinta, takut, harap, dsb. Menurut ahli tasawuf, tingkataan merupakan suatu kemapanan,
tetap. Sedangkan keaadaan bisa diperoleh tanpa kesengajaan, mudah hilang.
1.
Sumber Tasawuf dari Al-Qur’an
Tingkatan dan keadaan tasawuf berasal dari Al-Quran. Berikut
landasan tingkatan dan keadaan sufi dari Al-Qur’an:
§ Penggemblengan jiwa: “dan adapun orang-orang yang takut pada
kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka surgalah tempat
tinggal(Nya)”
§ Tingkatan asketis
: “katakanlah kesenangan di
dunia ini hanya sementara, dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa”
§ Tingkatan tawakkal : “dan
barang siapa tawakkal kepada Allah, niscaya Allah mencukupkan (keperluan)Nya”
§ Tinglatan syukur: :”sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu”
§ Tingkatan sabar: “dan berikanlah berita gembira kepada
orang-orang yang sabar”
§ Tingkatan rela: “Allah rela terhadap mereka dan merekapun rela
terhadap-Nya”
§ Tingkatan malu: “tidaklah mereka mengetahui, bahwa Allah
benar-benar melihat segala perbuatan?”
Akan terlalu
banyak jika disebutkan dalil tentang tingkatan dan keadaan sufi. Dapat dibaca
dalam al risalah al qusyairiyah : karya al Qusyairi, al luma’:
karya al Thusi, ihya’ ulumuddin : karya al Ghazali.
2.
Kehidupan, Moral, dan Sabda Rasulullah SAW
Seperti halnya Al-Qur’an sabagai salah satu sumber tasawuf, begitu
pula kehidupan, moral, dan sabda Rasul juga sebagai sumber tasawuf. Kehidupan
Rasulullah dapat kita bagi dalam dua fase. Fase kehidupan sebelum diangkat
menjadi Rasul dan sesudahnya. Dalam setiap fase ini, para sufi mendapatkan
adanya suatu sumber yang kaya dengan berbagai ilmu serta amal. Dalam hal
akhlaq, beliau adalah seorang yang berakhlak sempurna difirmankan Allah: “dan
sesungguhnya, kamu benar-benar berbudi pekerti luhur”. Dan suatu ketika
Aisyah ra ditanya tentang akhlak beliau, jawabnya: ”Akhlak Rasulullah adalah
Al-Qur’an. Allah ridha bersama keridhaan beliau, dan (Dia) niscaya marah
bersama kemarahan beliau”.
2.
Kehidupan
dan Ucapan Para Sahabat
Kehidupan dan ucapan sahabat adalah sumber tempat menimba para
sufi. Kehidupan dan ucapan mereka penuh hal-hal yang berkaitan dengan
asketisisme, kehidupan sederhana, dan penerimaan terhadap Allah. Karena itu
tidak seorangpun peneliti yang jujur dalam mengkaji sejarah tasawuf, yang dapat
melalaikan kecenderungan-kecenderungan rohaniah yang tercermin dalam kehidupan
ucapan para sahabat, yang meneliti sumber landasan-landasan kehidupan rohaniah
para sufi.
Seperti contoh:
Abu Bakar adalah seorang asketis, sehingga dalam diriwayatkan bahwa selama enam
hari dalam seminggu dia selalu dalam keadaan lapar, baju yang dimilikinya tidak
lebih dari satu.
Umar bin Khattab
pun terkenal dengan kebeningan jiwa dan kebersihan kalbunya. Dia terkenal
dengan kesederhanaannya. Diriwayatkan pada suatu hari ketika ia berpidato dalam
kekhalifahannya, beliau berpidato dengan memakai baju bertambalkan dua belas
sobekan.
Utsman juga
menjadi suri tauladan para sufi dalam banyak hal. Dalam hal penggemblengan
terhadap dirinya sendiri diriwayatkan bahwa dia mambawa sendiri beberapa ikat
kayu dari kebunnya, kemudia ia juga dermawan, tekun beribadah serta gemar
membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Sampai belaiu terbunuh saat mambaca
Al-Qur’an.
Sementara Ali bin
Abi Thalib dalam pandangan sufi memiliki kedudukan tinggi. Dalam hal ini, ‘Ali
al-Rudzbari seorang tokoh sufi angkatan pertama berkata “dia dianugerahi ilmu ladunni
(ilmu dari sisi Allah) dan ladunni adalah ilmu yang secara khusus
dianugerahka kepada nabi Khidr, sebagaimana firman Allah: “dan yang telah
Kami ajarkan padanya ilmu dari sisi Kami”. Menurut Ibnu ‘Uyainah, Ali bin
Abi Thalib adalah sahabat Nabi paling zuhud. Imam Syafi’I pun memandangnya
sebagai asketis besar.
Benih-benih kehidupan rohaniah juga dimiliki sahabat lain
ang bukan khalifah, mereka biasa disebut ahlussuffah. Sehingga sebagian penulis
berpendapat bahwa kata tasawuf berasal dari sebutan mereka. Ahlussuffah adalah
kaum miskin dari Muhajirin dan Anshar yang mendirikan sebuah ruangan di Masjid
Nabi (suffah berarti ujung masjid). Disiyu mereka memusatkan perhatian
dirinya kepada Allah dengan beribadah, melatih jiwa, dan menghindari duniawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar